Geger! Jaringan Penipuan Online Dibongkar di Phnom Penh, Puluhan Warga Asing Ditangkap
Tim gabungan Kamboja membongkar jaringan penipuan online di Phnom Penh dan menangkap puluhan warga asing dalam penggerebekan Gedung Universal Prince Tower.
Wakil Jaksa Pengadilan Kota Phnom Penh, Dong Ratana, memimpin koordinasi hukum dalam operasi tersebut. Inspektur Distrik Chamkarmon, Ken Lak, bersama tim gabungan langsung memeriksa sejumlah ruangan yang berada di gedung tersebut.
Polisi Bongkar Markas Scam di Gedung Bertingkat Phnom Penh
Dalam penggerebekan itu, petugas memeriksa beberapa ruangan di Gedung A1 dan Gedung A2. Aparat menemukan puluhan orang yang menjalankan aktivitas dengan banyak perangkat elektronik seperti laptop, komputer, dan ponsel.
Di Gedung A1 lantai 15 ruang 15-33, polisi menangkap 16 warga Vietnam yang terdiri dari 15 pria dan satu perempuan. Petugas membawa 10 laptop, 31 ponsel, delapan komputer all-in-one, serta satu modul kartu jaringan nirkabel untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Petugas kemudian bergerak ke lantai 16 ruang 16-35. Polisi menangkap 11 warga Vietnam, termasuk satu perempuan, serta membawa 13 laptop, 44 ponsel, dan satu modul kartu jaringan nirkabel.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Puluhan Warga Vietnam Terlibat Aktivitas Penipuan Digital
Tim gabungan melanjutkan pemeriksaan ke lantai 17 ruang 17-36. Lokasi tersebut menjadi salah satu titik dengan jumlah orang terbanyak. Polisi menangkap 15 warga Vietnam yang terdiri dari 12 pria dan tiga perempuan.
Dari ruangan itu, aparat membawa 21 laptop, 58 ponsel, serta satu modul kartu jaringan nirkabel. Selanjutnya, polisi memeriksa lantai 19 ruang 19-15 dan menangkap 10 warga Vietnam, termasuk dua perempuan.
Petugas juga membawa 10 laptop, 27 ponsel, serta satu modul kartu jaringan nirkabel dari lokasi tersebut. Seluruh perangkat tersebut kini menjadi bahan penyelidikan untuk mengungkap pola kerja jaringan penipuan online.
Baca Juga:Â Heboh! Imigrasi Gagalkan Keberangkatan 500 WNI, Mayoritas Hendak ke Kamboja
Ratusan Perangkat Elektronik Jadi Barang Bukti
Selain Gedung A1, polisi memeriksa Gedung A2 yang berada di lantai 7. Petugas tidak menemukan orang di dua ruangan, yakni ruang 7-11 dan ruang 7-25. Namun, mereka menemukan sejumlah perangkat elektronik yang berkaitan dengan aktivitas digital.
Dari dua ruangan tersebut, aparat membawa delapan laptop, 30 ponsel, tujuh laptop tambahan, 19 ponsel, serta dua modul kartu jaringan nirkabel.
Total operasi menghasilkan 209 ponsel, 69 laptop, delapan komputer all-in-one, dan enam modul kartu jaringan nirkabel yang kini membantu polisi mengembangkan penyelidikan.
Pelaku Gunakan Modus Penipuan Cinta untuk Menjerat Korban
Berdasarkan analisis forensik awal, polisi menemukan pola penipuan yang menggunakan metode pendekatan emosional atau romance scam. Para pelaku memanfaatkan komunikasi digital untuk membangun hubungan palsu dengan korban sebelum menjalankan aksinya.
Jaringan tersebut diduga menyasar pengguna internet asal Vietnam. Para pelaku memanfaatkan banyak perangkat komunikasi agar dapat menjangkau korban dalam jumlah besar.
Modus penipuan cinta biasanya membuat pelaku berpura-pura memiliki hubungan dekat dengan korban. Setelah mendapatkan kepercayaan, pelaku mulai mengarahkan korban untuk memberikan uang atau informasi pribadi.
54 Warga Asing Masuk Pemeriksaan Polisi Kamboja
Dalam operasi tersebut, aparat memeriksa 54 warga asing yang memiliki keterkaitan dengan lokasi tersebut. Mereka terdiri dari warga Vietnam, warga China, serta beberapa orang dengan kewarganegaraan ganda.
Polisi mencatat 52 warga Vietnam ikut menjalani pemeriksaan, termasuk tujuh perempuan. Selain itu, dua pria asal China juga menjalani proses pemeriksaan karena tidak membawa dokumen perjalanan.
Aparat juga mencatat tujuh perempuan memiliki kewarganegaraan ganda. Sebanyak 14 orang tidak membawa paspor saat polisi menjalankan operasi.
Kasus ini kembali menunjukkan bahwa jaringan penipuan online lintas negara terus menjadi perhatian serius pemerintah Kamboja. Aparat akan terus memperkuat pengawasan dan memburu kelompok yang memanfaatkan teknologi untuk melakukan kejahatan.