Terjebak TPPO Kamboja, Korban Bongkar Sisi Gelap Janji Gaji Besar yang Menjebak
Kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) kembali membuka fakta kelam soal modus perekrutan kerja ilegal di luar negeri.
Supiat (21), korban asal Barito Selatan, akhirnya berani menceritakan pengalamannya setelah mengalami eksploitasi di Kamboja. Ia masih merasakan trauma dan berusaha pulih dari pengalaman tersebut.
Supiat meminta masyarakat Indonesia lebih waspada terhadap tawaran kerja luar negeri yang beredar di media sosial. Ia tidak ingin orang lain terjebak seperti dirinya yang sempat kehilangan arah akibat janji palsu.
Awal Mula dari Tawaran di Media Sosial
Supiat pertama kali melihat lowongan kerja melalui Facebook. Ia tertarik karena tawaran itu terlihat menjanjikan dengan gaji besar. Tanpa ragu, ia langsung menghubungi akun yang mengunggah informasi tersebut.
Percakapan berlanjut ke chat pribadi dan kemudian ke WhatsApp. Pelaku meyakinkan Supiat bahwa pekerjaan itu legal dan aman. Ia pun mulai percaya karena komunikasi berjalan meyakinkan sejak awal.
Namun di balik percakapan itu, pelaku sebenarnya menjalankan skema penipuan untuk menjaring korban baru.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Janji Kerja Malaysia yang Berujung Penipuan
Awalnya, pelaku menawarkan pekerjaan sebagai petugas kebun di Malaysia dengan gaji besar. Tawaran itu membuat Supiat semakin yakin untuk berangkat.
Namun setelah tiba di luar negeri, pelaku mengubah rute perjalanan secara sepihak. Supiat tidak dibawa ke Malaysia, melainkan dipindahkan ke Kamboja.
Di sana, ia tidak pernah menjalani pekerjaan yang dijanjikan. Ia justru masuk ke jaringan penipuan online yang memaksanya bekerja di bawah tekanan.
Terjebak dalam Lingkaran Scam Online
Setibanya di Kamboja, Supiat menyadari dirinya sudah masuk dalam jaringan scam. Ia bekerja dalam tekanan tinggi tanpa kebebasan untuk menolak perintah.
Setiap hari ia menghadapi situasi yang membuat mentalnya tertekan. Kondisi itu membuatnya sulit berpikir jernih dan terus merasa takut.
Pengalaman tersebut meninggalkan luka mendalam. Hingga kini, Supiat masih berusaha pulih dan belum berani mencari kerja ke luar negeri lagi.
Baca Juga:Â Terungkap Markas Judol di Hayam Wuruk Serupa dengan Myanmar-Kamboja
Pesan Supiat untuk Para Pencari Kerja
Supiat menyampaikan pesan tegas agar masyarakat tidak mudah percaya pada janji gaji besar. Ia menegaskan bahwa banyak korban terjebak karena tidak mengecek jalur keberangkatan.
Ia mengingatkan bahwa jalur ilegal selalu membawa risiko besar. Banyak korban lain mengalami hal serupa tanpa sempat menyadari bahaya di awal.
Supiat berharap ceritanya bisa menjadi peringatan bagi calon pekerja migran agar lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan.
Pemerintah Dorong Jalur Resmi dan Verifikasi Data
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menegaskan pentingnya penggunaan jalur resmi untuk bekerja di luar negeri. Ia menyoroti maraknya modus perekrutan digital yang menyasar masyarakat.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak langsung percaya pada akun media sosial yang menawarkan kerja instan. Setiap informasi perlu dicek terlebih dahulu.
Masyarakat juga perlu memverifikasi perusahaan, negara tujuan, serta dokumen melalui sistem resmi SISKOP2MI. Langkah ini membantu mencegah kasus TPPO terus terjadi.