Jejak Uang Sindikat Narkoba Meksiko Terbongkar, Kamboja dan AS Turun Tangan
Jaringan pencucian uang yang diduga terkait Kartel Sinaloa terbongkar di Kamboja setelah operasi bersama AS, dengan aset kripto US$7 juta dan 200 kg narkoba disita.
Operasi ini menunjukkan bahwa jaringan kejahatan transnasional tidak hanya bergerak melalui perdagangan narkoba. Pelaku juga memanfaatkan mata uang kripto untuk memindahkan dan menyamarkan aliran dana hasil kejahatan. Simak ulasan lengkapnya dari Berita Terkini Indonesia Kamboja.
Jaringan Kripto Kartel Sinaloa Terendus di Kamboja
Badan anti-narkoba Kamboja bekerja sama dengan Drug Enforcement Administration (DEA) Amerika Serikat dalam membongkar jaringan tersebut. Petugas menangkap sejumlah orang dan menyegel beberapa aset yang mereka duga berkaitan dengan aktivitas jaringan.
Sekretaris Jenderal Badan Anti-Narkotika Nasional Kamboja Meas Vyrith mengatakan aparat membekukan sekaligus menyita sekitar 7 juta dolar AS dalam bentuk mata uang kripto. Petugas juga menemukan lebih dari 200 kilogram narkotika dan sekitar 1 ton bahan kimia prekursor.
Bahan kimia tersebut memiliki peran penting dalam pembuatan narkoba. Temuan itu membuat penyidik tidak hanya menelusuri aliran uang, tetapi juga aktivitas produksi dan penyimpanan narkotika yang berkaitan dengan jaringan tersebut.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Penggerebekan Berlangsung di Empat Lokasi
Petugas menjalankan penggerebekan pada 1 hingga 5 Agustus 2026. Operasi menyasar empat lokasi yang berada di Phnom Penh dan Provinsi Kandal, Kamboja.
Dalam operasi tersebut, aparat menemukan sejumlah fasilitas yang mereka kaitkan dengan aktivitas jaringan. Polisi kemudian menyegel kantor pembuatan narkoba dan tempat penyimpanan yang masuk dalam penyelidikan.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kamboja juga mengonfirmasi kerja sama tersebut pada 20 Agustus. Menurut pihak kedutaan, koordinasi antara kantor DEA di Phnom Penh dan New Jersey membantu aparat mengungkap jaringan lokal yang fokus mencuci mata uang kripto untuk Kartel Sinaloa.
Penggunaan aset digital menjadi salah satu bagian penting dalam penyelidikan karena transaksi kripto dapat memungkinkan pelaku memindahkan dana lintas negara tanpa menggunakan jalur keuangan konvensional.
Baca Juga:Â Hotel di Poipet Digerebek! 70 Warga Tiongkok Ditahan, Polisi Temukan Barang Mencurigakan
Sinaloa dan Bisnis Fentanil Jadi Sorotan
Kartel Sinaloa merupakan salah satu organisasi kriminal paling dikenal di Meksiko. Amerika Serikat memasukkan kelompok tersebut ke dalam daftar organisasi teroris asing.
Kelompok itu juga menjadi perhatian otoritas AS karena keterkaitannya dengan produksi dan perdagangan fentanil ilegal. Narkotika sintetis tersebut berkontribusi terhadap puluhan ribu kematian akibat overdosis di Amerika Serikat setiap tahun.
Jaringan produksi narkoba membutuhkan berbagai bahan kimia untuk membuat fentanil. Sejumlah bahan prekursor berasal dari berbagai negara, termasuk Tiongkok, sebelum masuk ke jaringan produksi di Meksiko.
Setelah proses produksi berlangsung, jaringan penyelundupan kemudian membawa narkotika menuju pasar Amerika Serikat. Pola tersebut membuat aparat harus menelusuri jaringan yang melibatkan banyak negara sekaligus.
Kamboja Jadi Salah Satu Titik Perhatian
Pengungkapan jaringan Sinaloa di Kamboja juga memperlihatkan semakin rumitnya pola perdagangan narkoba lintas negara. Kamboja selama ini menjadi salah satu wilayah yang kelompok kriminal manfaatkan sebagai jalur transit narkotika.
Salah satu jenis narkoba yang banyak bergerak melalui kawasan tersebut adalah metamfetamin atau kristal meth. Jaringan perdagangan biasanya menghubungkan Kamboja dengan wilayah Asia Tenggara lainnya.
Segitiga Emas yang mencakup wilayah perbatasan Thailand, Myanmar, dan Laos menjadi salah satu kawasan penting dalam produksi narkotika di Asia Tenggara. Dari kawasan tersebut, jaringan penyelundupan dapat mengirim narkoba ke berbagai negara.
Jaringan Kejahatan Makin Lintas Negara
Laporan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) yang terbit pada Juli juga menyoroti perkembangan kelompok kejahatan terorganisir di Asia Tenggara. Sejumlah kelompok dari luar kawasan kini ikut memainkan peran dalam perdagangan narkoba skala besar.
Kelompok tersebut tidak hanya memperdagangkan metamfetamin, tetapi juga terlibat dalam distribusi kokain dan berbagai jenis narkotika lainnya. Mereka memanfaatkan koneksi lintas negara untuk mengatur produksi, pengiriman, hingga pencucian uang.
Kasus yang melibatkan jaringan yang diduga terkait Kartel Sinaloa memperlihatkan bagaimana bisnis narkoba kini berjalan dengan pola yang semakin kompleks. Aparat tidak cukup hanya mengejar kurir atau bandar di lapangan, tetapi juga harus membongkar jalur uang dan aset yang menopang aktivitas mereka.
Dengan penyitaan aset kripto, narkotika, serta bahan prekursor dalam operasi terbaru, aparat Kamboja dan AS kini memiliki sejumlah petunjuk untuk mengembangkan penyelidikan. Langkah berikutnya akan menentukan seberapa luas jaringan tersebut beroperasi dan siapa saja yang terlibat di dalamnya.