Terungkap! Konglomerasi Bisnis Judi Kamboja Terseret Dugaan Skandal Penipuan dan Perdagangan Manusia
Investigasi Reuters mengaitkan Lim Heng Group dengan kompleks Royal Hill di perbatasan Thailand-Kamboja yang diduga menjadi lokasi penipuan siber dan perdagangan manusia.
Reuters belum menemukan bukti yang menunjukkan Lim Heng Group menjalankan penipuan atau perdagangan manusia. Namun, tim investigasi menemukan hubungan perusahaan dengan penyewaan bangunan di kawasan tersebut.
Berita Terkini Indonesia Kamboja akan mengulas hasil investigasi Reuters, kronologi kasus, serta berbagai fakta yang terungkap terkait dugaan penipuan dan perdagangan manusia ini.
Reuters Menelusuri Dokumen Penyewaan Bangunan
Reuters memperoleh dokumen sewa yang terbit pada Maret 2024. Dokumen itu menunjukkan Royal Hill menyewakan tiga bangunan kepada seorang warga negara China selama dua tahun.
Nilai sewanya mencapai US$200.000 setiap bulan. Angka tersebut jauh melampaui harga sewa properti serupa di Phnom Penh. Bangunan dengan ukuran hampir sama hanya memiliki harga sekitar US$25.000 per bulan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Pelaku Mengubah Ruangan Menjadi Kantor Polisi dan Bank
Reuters mengunjungi kompleks itu bersama militer Thailand. Tim menemukan sejumlah ruangan yang menyerupai kantor polisi dan kantor bank dari berbagai negara.
Beberapa pekerja menjelaskan bahwa pelaku memanfaatkan ruangan tersebut untuk menjalankan aksi penipuan. Mereka membuat suasana menyerupai kantor resmi agar korban lebih mudah percaya.
Militer Thailand juga menilai para bos penipuan memakai kompleks itu sebagai pusat operasi.
Baca Juga:Â Geger! Jaringan Penipuan Online Kamboja Kabur ke Vietnam, Diduga Bangun Markas Baru
Lim Heng Group Belum Memberikan Penjelasan
Reuters tidak menemukan bukti yang mengaitkan Lim Heng Group dengan aktivitas penipuan secara langsung. Investigasi hanya menghubungkan perusahaan dengan kepemilikan dan penyewaan properti.
Reuters menghubungi Royal Hill melalui telepon dan email. Hingga laporan terbit, pihak perusahaan belum memberikan jawaban.
Reuters juga mengirim daftar pertanyaan kepada Lim Heng Group. Perusahaan itu tidak memberikan tanggapan. Seng Chanthy yang menandatangani kontrak sewa juga memilih tidak berkomentar.
Thailand dan Kamboja Menyampaikan Pendapat Berbeda
Menteri Informasi Kamboja Neth Pheaktra menolak isi laporan Reuters. Ia menilai Thailand menyerang infrastruktur sipil selama konflik perbatasan.
Militer Thailand justru menunjukkan kompleks Royal Hill kepada wartawan. Mereka ingin memperlihatkan lokasi yang mereka yakini menjadi pusat penipuan.
Jenderal Thatchai Pitaneelaboot mengatakan kelompok kriminal asal China menjalankan operasi di kawasan tersebut. Namun, ia belum menjelaskan identitas kelompok itu secara rinci.
Koalisi Aksi Hak Asasi Manusia Kamboja menilai aparat bisa menindak pemilik properti. Langkah itu berlaku jika penyelidikan membuktikan pemilik mengetahui aktivitas kriminal tetapi tetap membiarkannya.
Kasus Royal Hill Kembali Memicu Sorotan
Kasus ini kembali mengangkat hubungan antara kasino dan jaringan penipuan di Asia Tenggara. Jason Tower dari Global Initiative against Transnational Organized Crime menilai kelompok penipu sering memanfaatkan kasino untuk menyembunyikan keuntungan ilegal.
Amnesty International juga melaporkan dugaan hubungan antara sejumlah kasino dan pusat penipuan di Kamboja. Laporan itu mengacu pada catatan regulator perjudian dan kesaksian para saksi.
Profesor Sophal Ear menilai banyak pengusaha yang memiliki kasino juga mempunyai hubungan politik yang kuat. Karena itu, kasus Royal Hill menarik perhatian banyak pihak.
Pemerintah Kamboja mengaku terus menyelidiki dugaan penipuan di sekitar Royal Hill. Chhay Sinarith berharap aparat Thailand segera membuka akses ke lokasi agar penyelidik dapat melanjutkan pemeriksaan.
Kasus tersebut masih berkembang. Publik kini menunggu hasil penyelidikan resmi untuk mengetahui pihak yang bertanggung jawab atas dugaan penipuan siber dan perdagangan manusia di kawasan Royal Hill.