KBRI Phnom Penh Perkuat Pelindungan WNI, Ini yang Dibahas Bersama Masyarakat
Sekitar 75 perwakilan masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang menghadiri pertemuan di KBRI Phnom Penh. Forum ini memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh informasi secara langsung sekaligus menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Simak ulasan lengkapnya dari Berita Terkini Indonesia Kamboja.
KBRI Buka Ruang Dialog Langsung dengan WNI
KUAI KBRI Phnom Penh, Krishnajie Partadireja, menjelaskan bahwa Townhall Meeting menjadi bagian dari upaya KBRI memperkuat pelayanan kepada masyarakat Indonesia. KBRI ingin memastikan masyarakat memahami informasi mengenai layanan kekonsuleran dan pelindungan WNI.
Komunikasi dua arah juga membantu KBRI melihat kondisi masyarakat secara lebih dekat. Setiap masukan dapat memberi gambaran mengenai kebutuhan dan persoalan yang muncul di lapangan.
| INDOKAMBOJA hadir di Channel Telegram, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Lebih dari 13.000 Pengaduan Masuk Sepanjang 2026
Jumlah pengaduan menunjukkan besarnya tantangan pelindungan WNI sepanjang 2026. Hingga September 2026, KBRI Phnom Penh menerima lebih dari 13.000 pengaduan dari WNI.
KBRI juga memfasilitasi pemulangan lebih dari 8.000 WNI ke Indonesia dalam periode tersebut. Jumlah itu menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan dan pendampingan selama berada di Kamboja.
Kondisi tersebut mendorong KBRI memperkuat kapasitas layanan. KBRI menambah kuota harian penerbitan dokumen perjalanan dan menyesuaikan jam pelayanan untuk menghadapi peningkatan kebutuhan masyarakat.
Baca Juga:Â Dari Kamboja ke Sumut, Mantan Pekerja Judol Ini Raup Rp300 Juta per Bulan
Kasus WNI Makin Beragam, Penanganan Ikut Bertambah
Persoalan yang masuk ke KBRI tidak hanya berkaitan dengan dokumen perjalanan. Masyarakat juga menghadapi berbagai masalah sosial dan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian.
Beberapa persoalan mencakup kebutuhan logistik di tempat penampungan dan konflik antarsesama WNI. KBRI juga menghadapi laporan dugaan peredaran narkoba serta kondisi WNI yang sedang hamil atau membawa bayi dan anak kecil.
Selain itu, KBRI memberi perhatian kepada WNI yang mengalami sakit berat atau gangguan kejiwaan. Petugas juga membantu menangani persoalan ketika ada WNI yang meninggal dunia di Kamboja.
Hingga Agustus 2026, KBRI Phnom Penh menerbitkan sekitar 9.200 dokumen kekonsuleran. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kapasitas normal pada tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran 7.000 dokumen per tahun.
PERMIKA Ingatkan WNI soal Aturan Kerja
Ketua Perhimpunan Masyarakat Indonesia di Kamboja atau PERMIKA, Arik S. Mintorogo, mengapresiasi pelaksanaan Townhall Meeting. Menurutnya, forum tersebut membantu memperlancar komunikasi antara KBRI dan masyarakat Indonesia.
PERMIKA juga menyoroti perubahan kebijakan Pemerintah Kamboja yang berdampak pada WNI. Pengetatan aturan tidak hanya menyentuh pekerja di sektor ilegal, tetapi juga pekerja profesional yang perlu memenuhi persyaratan administratif secara lebih ketat.
Karena itu, PERMIKA mengimbau WNI profesional untuk memeriksa kembali seluruh dokumen sebelum memperpanjang visa kerja. Persiapan yang teliti dapat membantu mereka menghindari kendala saat mengurus izin tinggal dan pekerjaan.
Penutupan Online Gambling Jadi Perhatian
Peserta juga membahas kebijakan Pemerintah Kamboja mengenai penutupan operasional perusahaan online gambling di seluruh wilayah Kamboja mulai 1 Oktober 2026.
KBRI Phnom Penh mengingatkan WNI agar memahami dan mematuhi aturan hukum yang berlaku di Kamboja. WNI juga perlu memeriksa status keimigrasian dan ketenagakerjaan agar tetap sesuai dengan ketentuan setempat.
Dialog bersama masyarakat menjadi salah satu cara KBRI memperkuat pelindungan WNI. Melalui forum ini, masyarakat memperoleh informasi terbaru secara langsung, sementara KBRI mendapat gambaran mengenai persoalan yang muncul di lapangan.
Kerja sama antara KBRI dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai persoalan WNI. Komunikasi yang terbuka juga membantu kedua pihak merespons kebutuhan masyarakat dengan lebih cepat dan tepat.