Viral! Kisah Pilu Iki, Dijanjikan Gaji Belasan Juta di Kamboja Tapi Berakhir Disiksa Hingga Dibuang Depan KBRI
Kisah Iki asal Bandung viral usai tergiur lowongan kerja bergaji besar di Facebook, namun justru mengalami penyiksaan dan terjebak sindikat di Kamboja.
Harapan mendapatkan pekerjaan layak justru membawa Iki menghadapi situasi sulit di Kamboja. Ia mengaku masuk ke lingkungan kerja yang memaksanya menjalankan aktivitas penipuan daring hingga mengalami tekanan fisik dan mental.
Berita Terkini Indonesia Kamboja akan mengulas kisah pilu Iki, pemuda asal Bandung yang tergiur tawaran kerja bergaji besar di Kamboja hingga menghadapi dugaan penyiksaan dan terjebak sindikat penipuan online.
Janji Gaji Besar Membuat Iki Tertarik Berangkat ke Kamboja
Iki menemukan tawaran pekerjaan luar negeri melalui sebuah akun pribadi di Facebook. Tawaran tersebut menyebut calon pekerja bisa mendapatkan penghasilan lebih dari Rp10 juta per bulan tanpa membutuhkan syarat pendidikan tinggi.
Karena ingin memperbaiki kondisi ekonomi, Iki menerima tawaran tersebut. Ia kemudian mengikuti arahan seseorang yang mengurus keberangkatannya menuju luar negeri.
Iki meninggalkan Bandung bersama seorang rekan menuju Jakarta. Setelah bermalam, mereka melanjutkan perjalanan ke Medan dan tinggal selama satu minggu bersama beberapa calon pekerja lain.
Selama berada di Medan, Iki hanya menjalani pemeriksaan kesehatan. Ia tidak menerima pelatihan atau penjelasan pekerjaan secara rinci sebelum melanjutkan perjalanan ke negara berikutnya.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Perjalanan Menuju Kamboja Menyimpan Banyak Kejanggalan
Dari Medan, Iki bersama rombongan pergi ke Malaysia untuk transit. Pihak yang mengurus perjalanan memegang seluruh tiket penerbangan sehingga Iki tidak mengetahui tujuan akhirnya.
Setelah transit, Iki tiba di Kamboja. Seorang pengemudi lokal kemudian membawa dirinya menggunakan mobil menuju sebuah lokasi yang berjarak sekitar delapan jam dari pusat Kota Phnom Penh.
Saat tiba di kompleks apartemen dengan penjagaan ketat, Iki mulai merasa curiga. Ia melihat banyak komputer dalam satu ruangan besar yang digunakan untuk aktivitas mencurigakan.
Baca Juga:Â Enam WNI Ditemukan Tidur di Loteng Rumah Poipet, Polisi Kamboja Turun Tangan
Iki Mengaku Dipaksa Menjalankan Penipuan Online
Di tempat tersebut, beberapa orang meminta Iki menjalankan pekerjaan sebagai scammer atau pelaku penipuan daring. Mereka mengarahkan Iki mencari korban melalui internet dengan modus asmara dan pemerasan menggunakan video.
Iki harus memenuhi target tertentu setiap hari. Karena kesulitan mendapatkan korban, pihak pengelola memindahkannya ke bagian yang menangani pengiriman konten pemerasan.
Selama berada di lokasi itu, Iki tidak menerima pembayaran seperti janji awal. Ia juga tinggal bersama pekerja lain dalam ruangan sempit dengan aturan kerja yang sangat ketat.
Tekanan Kerja Membuat Iki Mengalami Kekerasan
Iki menceritakan bahwa orang-orang yang mengawasi tempat tersebut memberikan hukuman ketika pekerja gagal mencapai target. Mereka memberikan tekanan fisik dan mental agar para pekerja tetap menjalankan perintah.
Menurut Iki, beberapa warga Indonesia juga ikut terlibat dalam sistem tersebut. Mereka melakukan kekerasan karena mendapat tekanan dari pihak yang memiliki kendali lebih besar.
Dalam kondisi tertekan, Iki mencari kesempatan untuk menghubungi keluarganya. Ia memanfaatkan waktu di kamar mandi untuk meminta bantuan melalui ponsel yang tersedia.
Kisah Iki Menjadi Peringatan bagi Pencari Kerja
Setelah kabar tentang kondisi Iki menyebar, pihak perusahaan akhirnya mengirimnya kembali. Namun, mereka hanya menurunkan Iki di depan KBRI Kamboja pada dini hari tanpa pendampingan.
Iki meminta bantuan petugas keamanan dengan bantuan aplikasi penerjemah karena mengalami kendala komunikasi. Pihak KBRI kemudian membantu proses perlindungan hingga kepulangannya ke Indonesia.
Saat kembali ke keluarga, Iki masih merasakan dampak trauma dari pengalaman tersebut. Ia melakukan berbagai kegiatan seperti olahraga rutin untuk membantu memulihkan kondisi mentalnya.
Kisah Iki menjadi pengingat agar masyarakat lebih berhati-hati menerima tawaran kerja dari media sosial. Tawaran dengan janji gaji besar tanpa informasi jelas dapat membawa risiko serius bagi calon pekerja.