Viral! Penggerebekan di Phnom Penh, 58 WNA Terlibat Penipuan Online Diciduk
Penggerebekan di Phnom Penh viral setelah puluhan WNA diduga terlibat kasus penipuan online dan berhasil diamankan aparat.
Polisi Phnom Penh lakukan penggerebekan besar-besaran di pusat penipuan online, menangkap 58 warga negara asing pada operasi terbaru Mei 2026. Aksi ini bagian kampanye intensif Kamboja berantas scam center transnasional yang rugikan korban global. Video razia cepat viral di media sosial internasional, dapat jutaan views dalam hitungan jam.
Berikut ini Berita Terkini Kamboja akan membahas penggerebekan di Phnom Penh terkait 58 WNA kasus penipuan online.
Lokasi dan Eksekusi Razia
Razia target kompleks Borey Peng Huoth 5, Prek Pra, Chbar Ampov district. Tim Phnom Penh Municipal Police tembus pagar besi pagi buta Minggu (10/5/2026). 58 tersangka tertangkap sedang aktif jalankan romance scam via Zoom dan WhatsApp. Operasi selesai 90 menit tanpa korban jiwa. Lokasi aktif operasi sejak Januari 2026.
Pasukan anti-narkotika bantu amankan perimeter luar. Drone thermal deteksi panas komputer server ruang bawah tanah. Pintu besi digergaji pakai torch setrum. Tersangka coba hapus data tapi gagal total. Penggerebekan terekam 12 bodycam polisi secara real-time.
Komandan operasi laporkan lokasi sewa via agen misterius Rp200 juta/bulan. Akses internet 1Gbps khusus pasang untuk video call HD. Penggerebekan jadi yang ke-127 tahun ini di Phnom Penh saja. Otoritas klaim potong 70 persen aktivitas scam lokal.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Komposisi dan Modus Tersangka
Sebanyak 46 pria China, 8 Myanmar, dan 4 Vietnam terlibat dalam kasus ini. Mereka berusia 22–38 tahun, sebagian eks pekerja IT yang direkrut lewat Telegram. Masuk Kamboja dengan visa turis lalu overstay, mereka bekerja 14 jam per hari tanpa hari libur dengan gaji sekitar USD700 dan bonus per korban sukses.
Modus utama “pig butchering” romance scam via Tinder palsu. Target korban Eropa Utara dan Australia kaya raya. Skrip percakapan romantis 50 halaman pakai AI terjemahan. Video call pakai deepfake filter cantik. Transfer kripto via mule account Thailand.
Pengakuan awal menunjukkan adanya hierarki ketat, yakni bos dari China, supervisor dari Myanmar, dan operator dari Vietnam. Selain itu, beberapa pelaku mengaku mengalami kekerasan fisik jika gagal mencapai target harian. Polisi juga menemukan pisau dan senjata api di kamar bos. Sementara itu, kondisi kesehatan para pekerja dilaporkan buruk, dengan banyak yang mengalami anemia kronis.
Baca Juga: Fakta Baru! WNI Kasus Judol di Hayam Wuruk Ternyata Pernah Bekerja di Kamboja
Barang Bukti Digital Masif
Sita 520 smartphone iPhone dan Samsung terbaru. 68 PC gaming jalankan bot auto-reply WhatsApp. Server rackmount simpan database 25.000 korban terverifikasi. 18 wig sintetis dan 30 kostum sexy untuk video call. Semua forensik kunci Interpol.
Uang tunai US$220.000 plus kripto wallet US$95.000. Ledger hardware wallet sembunyi di AC unit. Screenshot chat romansa ribuan halaman. Software CRM khusus scam center sita utuh. Bukti transaksi bank digital dari 28 negara.
Hard drive pelatihan berisi “cara menipu janda kaya” berkapasitas 2TB turut ditemukan. Selain itu, terdapat video testimoni operator yang mengaku berhasil memperoleh pendapatan hingga US$10.000 per bulan. VPN server di Taiwan juga masih aktif saat penggerebekan berlangsung. Data tersebut kemudian membantu mengidentifikasi lebih dari 300 korban asal Indonesia yang terdampak.
Proses Hukum dan Deportasi
Otoritas Kamboja menahan 58 tersangka selama 45 hari di Phnom Penh Detention Center. Sidang massal jadwal 25 Mei 2026. Hukuman 7-12 tahun penjara plus denda US$50.000. Deportasi permanen blacklist visa Kamboja seumur hidup. Restitusi korban prioritas utama.
Kamboja meningkatkan koordinasi dengan ASEANAPOL dan Interpol serta mengirim notifikasi kepada korban. KBRI Phnom Penh turut memantau 12 WNI yang terdampak secara tidak langsung. Selain itu, kampanye CCTC menargetkan penutupan 90 persen scam center pada Juni 2026, sementara visa WNA di bidang IT juga sedang ditinjau ulang secara menyeluruh.
Dampak positifnya, terjadi penurunan 55 persen laporan scam global sesuai target Kamboja. Selain itu, investor legal di sektor IT merasa lebih aman untuk beroperasi. Citra Phnom Penh juga mulai pulih sebagai kota yang lebih bersih dari cybercrime. Sementara itu, Thailand dan Laos meminta cetak biru operasi serupa untuk diterapkan di negara mereka.
Ikuti terus perkembangan terbaru dan jangan sampai terlewatkan informasi penting seputar Berita Terkini Kamboja setiap harinya.
Sumber Informasi Gambar:
Gambar Pertama dari: khmertimeskh.com
Gambar Kedua dari: khmertimeskh.com