PMI Pangandaran Terjebak Kerja Scam di Kamboja, Ini Yang Terjadi Sebenarnya!
Kasus PMI asal Pangandaran yang terjebak kerja scam di Kamboja mencuat, mengungkap kondisi sulit dan permintaan bantuan untuk pulang.
Pekerja Migran Indonesia asal Pangandaran, Jawa Barat, Agus Hidayat (37), mengaku terjebak di perusahaan scam di Kamboja. Warga Dusun Ciawitali, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang ini tidak bisa pulang karena kekurangan biaya dan khawatir kehilangan dokumen. Ia pun meminta perlindungan serta bantuan agar dapat kembali ke keluarganya.
Berikut ini Situasi Terkini Kamboja akan mengulas perkembangan kasus PMI Pangandaran yang terjebak kerja scam, termasuk kondisi terbaru dan upaya penyelamatan.
Awal Mula Terjebak di Kamboja
Agus Hidayat awalnya tertarik dengan tawaran kerja di Kamboja melalui seorang agen perekrutan. Ia dijanjikan pekerjaan sebagai marketing dengan gaji sekitar Rp16 juta per bulan. Tawaran ini terasa menggiurkan bagi warga desa yang ingin memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Agus pun memutuskan ikut dengan harapan masa depan yang lebih baik.
Namun setelah tiba di Kamboja, kondisinya berubah drastis. Ia tidak ditempatkan di posisi marketing seperti yang dijanjikan. Sebaliknya, ia dipaksa bekerja di perusahaan penipuan daring (online scam). Agus harus menghubungi orang di luar negeri untuk menipu melalui media sosial dan pesan elektronik. Tekanan target penipuan sangat tinggi sehingga hari‑hari terasa menyiksa.
Selama di Kamboja, Agus tinggal di sebuah tempat penampungan bersama puluhan WNI lain. Mereka diawasi ketat dan tidak diperbolehkan keluar bebas. Ia mengaku hampir sepanjang waktu terkurung di tempat itu. Agus juga mengatakan bahwa agen tidak mengurus visa dengan benar. Akibatnya, ia merasa terjebak di negara asing tanpa perlindungan hukum yang jelas.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Tekanan Kerja dan Dugaan Kekerasan
Kerja di perusahaan scam di Kamboja membuat Agus mengalami tekanan fisik dan mental. Ia harus bekerja berjam‑jam setiap hari, sering kali lebih dari 12 jam. Target penipuan sangat ketat dan harus terpenuhi setiap hari. Jika tidak mencapai target, ia mengaku bisa ditegur bahkan menerima ancaman.
Selain tekanan kerja, Agus menyebut adanya praktik kekerasan dan penyiksaan. Ia mengaku pernah diancam dan ditekan secara fisik oleh pihak yang mengawasi tempat kerjanya. Tidak ada jaminan keselamatan dan lingkungan kerja sangat tidak manusiawi. Ia merasa seperti tahanan yang terus diawasi tanpa ada jalan keluar.
Dalam pengakuannya, Agus juga mengatakan bahwa ia tidak pernah menerima gaji sesuai janji. Gaji yang dijanjikan Rp16 juta per bulan tidak pernah diberikan. Ia hanya mendapat makan dan tempat tinggal sementara. Tanpa uang dan tanpa tiket pulang, Agus merasa terjebak dan tidak bisa kembali ke Indonesia. Ia berharap ada pihak yang membantunya keluar dari situasi ini.
Baca Juga: Duka Mendalam! PMI Majalengka Tewas di Kamboja, Baznas Turun Tangan
Permintaan Agus Untuk Pulang ke Tanah Air
Melalui pesan WhatsApp, Agus mengirimkan permohonan bantuan kepada pihak terkait di Indonesia. Ia berharap ada pihak yang dapat membantu memfasilitasi kepulangannya ke Indonesia. Ia mengaku tidak memiliki biaya untuk membeli tiket pesawat. Selain itu, ia juga khawatir akan menghadapi masalah hukum di Kamboja jika mencoba melarikan diri sendiri.
Agus menegaskan bahwa ia tidak ingin melanjutkan kerja di perusahaan scam tersebut. Ia mengaku berada dalam kondisi tidak aman, baik secara fisik maupun psikologis. Keinginannya hanya kembali ke Pangandaran dan berkumpul dengan keluarga. Ia juga berharap ada pihak yang dapat menindak agen yang telah menipunya agar tidak menimbulkan korban serupa di kemudian hari.
Permintaan ini juga didukung oleh pihak keluarga di Pangandaran. Keluarga Agus mengaku sangat khawatir dan menuntut agar pemerintah dapat membantu pemulangan dan perlindungan terhadap anaknya. Mereka berharap instansi terkait bisa segera merespons dan membawa Agus pulang dengan selamat. Keluarga berharap Agus dapat kembali menjalani kehidupan normal di kampung halamannya.
Respons Pemerintah dan Upaya Perlindungan
Pemerintah di Indonesia, melalui pihak terkait, mulai meninjau kasus Agus Hidayat. Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) diminta untuk meninjau dan mengambil langkah pemulangan jika diperlukan. Pihak‑pihak tersebut diharapkan bisa memastikan keselamatan dan jaminan hukum bagi PMI yang terjebak di Kamboja.
Selain itu, pihak berwenang di Indonesia juga mengevaluasi proses perekrutan tenaga kerja melalui agen di Pangandaran. Pemerintah akan mengecek apakah agen yang merekrut Agus memiliki izin dan sesuai dengan regulasi. Pihak yang terbukti melakukan penipuan dan perdagangan manusia akan diperiksa. Ini penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Masyarakat juga mendukung langkah pemerintah untuk membantu korban kerja scam di luar negeri. Mereka menuntut agar pemerintah lebih proaktif dalam memberi edukasi dan perlindungan kepada calon pekerja migran. Pemerintah diharapkan juga memberi layanan yang cepat dan tepat bagi warga yang terjebak di luar negeri. Masyarakat berharap kasus Agus menjadi pelajaran bagi pemerintah dan calon pekerja migran lainnya.
Ikuti terus perkembangan terbaru dan jangan sampai terlewatkan informasi penting seputar Situasi Terkini Kamboja setiap harinya.
Sumber Informasi Gambar:
Gambar Pertama dari: priangan.tribunnews.com
Gambar Kedua dari: kumparan.com