Tragis! Pemuda Serang Jadi Korban TPPO di Kamboja, Kabur Jalan Kaki 23 Jam
Caderra Pasqy Naiga Prasasty, pemuda asal Serang, Banten, menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan dipaksa menjadi scammer online.
Disiksa dan diancam, Caderra nekat kabur bersama 22 WNI lain dengan berjalan kaki sejauh 125 kilometer selama 23 jam menuju KBRI Phnom Penh. Wali Kota Serang, Budi Rustandi, menggunakan dana pribadi untuk memulangkannya ke Indonesia.
Jangan lewatkan fakta mengejutkan yang sedang ramai diperbincangkan dan viral cuman ada di Berita Indonesia Kamboja.
Pemuda Serang Terjerat Sindikat Penipuan di Kamboja
Caderra Pasqy Naiga Prasasty, pemuda asal Kota Serang, Banten, mengaku menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Ia dipaksa bekerja sebagai scammer online di Kamboja oleh sindikat internasional. Selama bekerja, Caderra mengalami penyiksaan fisik dan tekanan mental hingga memaksanya berjuang melarikan diri.
Caderra bercerita kisahnya saat bertemu Wali Kota Serang, Budi Rustandi, pada Selasa (31/3/2026), didampingi ibunya, Repelitawati. Ia menuturkan awalnya ditawari pekerjaan di rumah makan di Vietnam, yang ternyata hanya kedok untuk menjeratnya menjadi pekerja ilegal di luar negeri.
Perjalanan keberangkatan Caderra dibayari sindikat, mulai dari jalur Batam ke Malaysia, lalu diterbangkan ke Ho Chi Minh, Vietnam. Sesampai di Vietnam, ia dan puluhan WNI lain dipindahkan ke bus dan menempuh perjalanan 18 jam melintasi perbatasan hingga tiba di Kamboja.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Derita Korban Perusahaan Scam
Setibanya di Kamboja, Caderra dikurung di wilayah Prey Veng dan dipaksa bekerja sebagai penipu daring dengan target korban di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Gaji awal yang diterima hanya USD 100, sementara sisanya ia dijual ke perusahaan lain senilai USD 3.500.
Ia mengaku disiksa jika tidak mencapai target. Penyiksaan berupa pukulan fisik hingga disetrum membuat kondisi pekerja sangat tertekan. Bersama 22 WNI lainnya, Caderra akhirnya memutuskan untuk melarikan diri demi keselamatan mereka.
Keluar dari perusahaan tersebut bukan hal mudah. Caderra dan teman-temannya menempuh perjalanan darat sejauh 125 kilometer menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh. Mereka berjalan nonstop selama 23 jam, dari malam hingga malam berikutnya, menempuh jalanan sulit demi menyelamatkan diri.
Baca Juga: KEJAM! Modus Loker Restoran Seret 14 Remaja Sumsel ke Judi Online Kamboja!
Tantangan Bayar Denda Overstay
Sesampainya di KBRI Phnom Penh, Caderra mendapat informasi bahwa ia harus membayar denda overstay. Jumlah yang harus dibayar cukup besar, ratusan juta rupiah, belum termasuk biaya tiket pulang sekitar Rp 8 juta. Situasi ini membuat keluarganya di Serang kebingungan dan cemas.
Ibunya, Repelitawati, mencoba menghubungi pemerintah setempat untuk meminta bantuan. Wali Kota Serang, Budi Rustandi, merespons cepat dengan menggunakan dana pribadinya untuk memulangkan Caderra ke Kota Serang. Ia menekankan bahwa langkah ini dilakukan demi keselamatan warganya tanpa membebani APBN.
Berkat bantuan Pemkot Serang, Caderra akhirnya bisa kembali ke kampung halaman. Repelitawati menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Wali Kota dan jajaran Pemkot Serang, menyebut bahwa tanpa bantuan tersebut, anaknya mungkin masih terjebak di luar negeri.
Bantuan dan Perlindungan untuk Korban TPPO
Kisah Caderra menjadi peringatan penting tentang bahaya TPPO dan pekerjaan ilegal di luar negeri. Wali Kota Budi Rustandi menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat dan edukasi terkait penipuan kerja internasional.
Pemerintah daerah dan KBRI bekerja sama untuk memastikan keselamatan WNI yang menjadi korban TPPO di luar negeri. Selain itu, upaya preventif berupa sosialisasi dan pemantauan agen perekrutan tenaga kerja di luar negeri terus ditingkatkan.
Caderra kini berencana membagikan pengalamannya untuk memperingatkan generasi muda agar lebih hati-hati menghadapi tawaran pekerjaan di luar negeri. Ia berharap kasusnya menjadi pelajaran agar tidak ada lagi korban yang terjerat sindikat penipuan internasional.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari serangkota.go.id