Terungkap! Pengakuan Terakhir Deri Sebelum Tewas di Kamboja Bikin Ngeri
Deri, pekerja migran Indonesia, mengaku merasa terancam sebelum meninggal di Kamboja, pengakuannya bikin keluarga dan publik ngeri.
Kematian pekerja migran Indonesia asal Majalengka, Deri, di Kamboja mengguncang keluarga dan publik. Korban tewas dua bulan setelah tiba, ditemukan di pinggir jalan kawasan industri Phnom Penh. Sebelumnya, Deri sempat mengaku merasa “dikejar” dan tidak aman kepada orang tuanya, menjadi pengingat bahaya kerja ilegal di luar negeri.
Berikut ini Situasi Terkini Kamboja akan mengungkap pengakuan terakhir Deri sebelum tewas, memicu kekhawatiran serius soal keselamatan pekerja migran.
Awal Pencari Kerja hingga ke Kamboja
Deri adalah pemuda asal Majalengka yang berangkat ke Kamboja demi menambah penghasilan keluarga. Ia mengikuti tawaran kerja yang menjanjikan bayaran tinggi, tapi prosesnya jauh dari transparan. Keluarga sempat menentang, namun akhirnya menurut karena kondisi keuangan yang sulit.
Ia hanya menandatangani kontrak tanpa pendampingan resmi dari lembaga perlindungan pekerja migran. Modus seperti ini sering memanfaatkan warga yang butuh uang cepat tanpa penjelasan risiko jelas. Setibanya di Kamboja, ia diarahkan ke kawasan industri atau kantor kerja berisiko tinggi.
Setelah sampai, Deri hanya bisa berkomunikasi singkat dan tidak stabil. Ia mengeluh beban kerja berat, jam panjang, dan pengawasan yang keras. Keluarga di Indonesia cuma bisa menerima kisah sedikit‑sedikit, tanpa menduga kejadian akan berakhir tragis.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Pengakuan “Dikejar” di Hari Terakhir
Beberapa hari sebelum ditemukan tewas, Deri menelpon keluarga dan mengatakan dirinya “dikejar‑dikejar” dan merasa tidak aman. Ia bicara cemas, tanpa menyebut siapa pengejarnya, tapi jelas merasa tertekan. Keluarga di rumah panik, namun tak bisa langsung bertindak karena jarak dan informasi yang terbatas.
Keluarga juga mengingat bahwa Deri sempat bilang ingin pindah dari tempat kerja lama. Menurutnya, suasana di kantor itu tidak sehat dan penuh tekanan. Ia merasa terjebak, karena tidak punya pilihan jelas untuk pulang dengan cepat.
Setelah pengakuan itu, komunikasi dengan Deri terputus. Beberapa waktu kemudian, keluarga menerima kabar ia ditemukan tewas di pinggir jalan kawasan industri Phnom Penh. Kondisi ini memperkuat dugaan kematian Deri tidak hanya kecelakaan, melainkan terkait ancaman yang pernah ia sebutkan.
Baca Juga: Pekerja Migran Indonesia Ditemukan Tewas di Kamboja, Ini Dugaan Polisi!
Dugaan Kematian dan Kondisi di Lokasi
Deri ditemukan dalam kondisi yang mencurigakan, sehingga keluarga dan aparat menduga ada kekerasan. Jasadnya diketemukan di tepi jalan dekat kawasan industri, tanpa pengamanan diri yang memadai. Kondisi ini menimbulkan kesan ia berada di situasi kacau dan penuh eksploitasi.
KBRI Phnom Penh dan polisi setempat langsung menangani kasus ini sebagai kematian PMI yang mencurigakan. Mereka melakukan otopsi, dokumentasi luka, dan pemeriksaan TKP serta CCTV di sekitar lokasi. Keluarga meminta semua pihak yang terlibat, termasuk perekrut dan pengelola kantor, juga diperiksa.
Pemerintah Indonesia menyatakan akan mendukung proses hukum dan perlindungan pekerja migran di Kamboja. Mereka menekankan pentingnya mengawasi jaringan perekrutan yang terkait TPPO dan kantor scam daring. Kasus Deri diharapkan jadi pelajaran bahwa merantau ke luar negeri tidak boleh mengorbankan keselamatan jiwa.
Respons Keluarga dan Imbauan Bagi Pencari Kerja
Keluarga Deri di Majalengka hancur mendengar putra mereka tewas di Kamboja. Mereka merasa dibuat gelisah oleh beberapa kali percakapan singkat yang penuh ketakutan. Setelah kematian, mereka menuntut transparansi hukum dan dukungan pemerintah untuk memperjuangkan keadilan.
Mereka juga menyalahkan jaringan perekrut yang menjanjikan kerja tanpa jaminan perlindungan jelas. Jika proses migrasi diawasi lembaga resmi, Deri mungkin tidak terjebak di tempat kerja berbahaya. Keluarga berharap cerita mereka jadi peringatan bagi orang tua agar lebih berhati‑hati sebelum merelakan anak merantau ke luar negeri.
Pemerintah dan lembaga perlindungan PMI kembali mengingatkan publik soal risiko kerja di Kamboja tanpa jalur resmi. Masyarakat diminta menolak tawaran kerja dengan bayaran tinggi tapi tidak jelas aturan dan pendaftarannya. Pengakuan terakhir Deri, “dikejar dan tidak aman,” harus diingat sebagai sinyal bahaya, bukan sekadar kekhawatiran biasa.
Ikuti terus perkembangan terbaru dan jangan sampai terlewatkan informasi penting seputar Situasi Terkini Kamboja setiap harinya.
Sumber Informasi Gambar:
Gambar Pertama dari: jatim.tribunnews.com
Gambar Kedua dari: makassar.kompas.com