Gila! Harga Solar di Kamboja Naik Drastis, Kini Rp34 Ribu per Liter

Silakan Share

Harga solar di Kamboja melonjak drastis hingga Rp34 ribu per liter akibat dampak konflik di Timur Tengah bensin biasa dan LPG.

Kini Rp34 Ribu per Liter

Menekan biaya transportasi dan kebutuhan rumah tangga. Pemerintah Kamboja menurunkan bea masuk serta pajak impor bahan bakar, kendaraan listrik, dan perangkat energi terbarukan untuk meringankan beban masyarakat.

Jangan lewatkan fakta mengejutkan yang sedang ramai diperbincangkan dan viral cuman ada di Berita Indonesia Kamboja.

nonton gratis piala dunia 2026 STADIONLIVE LIVE STREAMING WORLD CUP 2026

Harga Solar di Kamboja Melonjak Drastis

Harga solar di Kamboja meningkat lebih dari dua kali lipat sejak pecahnya konflik di Timur Tengah. Kementerian Perdagangan Kamboja melaporkan bahwa satu liter solar kini dijual seharga 8.100 riel, atau sekitar Rp34 ribu. Kenaikan ini naik sekitar 110 persen dibandingkan harga akhir Februari yang hanya 3.850 riel per liter. Tidak hanya solar, harga bensin biasa juga melonjak menjadi 5.500 riel.

Menurut data resmi, harga solar naik 110 persen dari 3.850 riel pada akhir Februari 2026. Lonjakan harga ini membuat sektor transportasi dan industri di Kamboja merasakan tekanan biaya yang signifikan. Selain solar, harga bensin biasa juga meningkat 42,8 persen menjadi 5.500 riel per liter, sedangkan harga gas petroleum cair (LPG) naik hampir dua kali lipat menjadi 3.900 riel per liter.

Para analis menilai bahwa konflik internasional menjadi salah satu faktor utama melonjaknya harga energi, karena pasokan global terganggu, sehingga negara-negara pengimpor, termasuk Kamboja, terdampak langsung.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal.

Download Aplikasi Shotsgoal - Live Streaming Piala Dunia 2026
📲 DOWNLOAD SEKARANG

Bensin dan LPG Juga Ikut Naik

Selain solar, harga bensin biasa di Kamboja kini mencapai 5.500 riel per liter, mengalami peningkatan 42,8 persen dibandingkan akhir Februari. Kenaikan ini berdampak langsung pada kendaraan pribadi dan transportasi umum. Tidak hanya itu, harga gas petroleum cair (LPG) juga melonjak menjadi 3.900 riel per liter, hampir dua kali lipat dari harga sebelumnya 2.000 riel per liter.

Sementara itu, harga gas petroleum cair (LPG) juga melonjak menjadi 3.900 riel per liter, naik 95 persen dari 2.000 riel sebelumnya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan rumah tangga yang menggunakan LPG untuk memasak sehari-hari.

Kenaikan harga ini menambah tekanan inflasi domestik, sehingga masyarakat harus menyesuaikan anggaran bulanan mereka, khususnya untuk kebutuhan energi dan transportasi. Untuk meredam dampak kenaikan harga, pemerintah Kamboja menurunkan bea masuk dan pajak impor produk bahan bakar pada 20 Maret 2026.

Baca Juga: Terungkap! Pengakuan Terakhir Deri Sebelum Tewas di Kamboja Bikin Ngeri

Upaya Pemerintah Mengurangi Dampak

Upaya Pemerintah Mengurangi Dampak

Pemerintah Kamboja mengambil langkah-langkah untuk meredam dampak kenaikan harga bahan bakar. Pada 20 Maret, bea masuk dan pajak impor produk bahan bakar diturunkan untuk mengurangi biaya yang harus ditanggung konsumen.

Selain itu, pada 28 Maret, pemerintah memutuskan untuk menurunkan bea masuk impor kendaraan listrik (EV), kendaraan listrik hibrida plug-in penumpang (PHEV), kompor listrik, dan perangkat bertenaga surya. Langkah ini diharapkan dapat mendorong masyarakat beralih ke energi yang lebih bersih dan hemat biaya.

Kebijakan ini juga bertujuan untuk mendukung upaya transisi energi nasional dan menurunkan ketergantungan Kamboja terhadap bahan bakar fosil yang harganya fluktuatif di pasar global.

Tantangan dan Harapan di Tengah Lonjakan Harga

Meski ada kebijakan pemerintah, masyarakat Kamboja masih menghadapi tekanan akibat kenaikan harga bahan bakar. Bisnis transportasi, logistik, dan industri rumah tangga menjadi yang paling terdampak.

Para pakar ekonomi menekankan perlunya diversifikasi sumber energi. Termasuk penggunaan energi terbarukan, untuk mengurangi risiko fluktuasi harga global di masa depan. Program kendaraan listrik dan perangkat surya yang didukung pemerintah menjadi langkah awal yang positif.

Dengan kebijakan fiskal yang adaptif dan dorongan untuk energi bersih, diharapkan masyarakat dan pelaku usaha dapat bertahan menghadapi kenaikan harga sementara. Serta Kamboja dapat meningkatkan ketahanan energi nasional secara berkelanjutan.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari rctiplus.com
  • Gambar Kedua dari metrotvnews.com