Viral! Warga Tasikmalaya Nyaris Dijual ke Kamboja, Modus Lowongan Telegram Terbongkar

Silakan Share

Seorang pemuda asal Tasikmalaya, Jawa Barat berinisial PI (26), membagikan kisah pilu yang bikin siapa pun merinding.

Viral! Warga Tasikmalaya Nyaris Dijual ke Kamboja, Modus Lowongan Telegram Terbongkar

Ia menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) setelah tergiur lowongan kerja bergaji besar yang ia temukan di aplikasi Telegram. Ia awalnya hanya ingin mendapat pekerjaan layak, namun langkah itu justru membawanya ke mimpi buruk di negeri orang.

Kisah ini bermula pada Oktober 2023. Saat itu, PI aktif mencari pekerjaan lewat grup Telegram. Di tengah keinginannya memperbaiki hidup, seorang perempuan berinisial M menghubunginya dan menawarkan pekerjaan di Singapura sebagai pegawai restoran dengan gaji Rp12 juta per bulan. Tawaran itu terdengar sangat menggiurkan karena tidak menuntut syarat rumit.

“‘Katanya kerja di restoran, enggak perlu bisa bahasa Inggris, gaji juga besar. Saya langsung percaya,’” ungkap PI. Tanpa banyak curiga, ia mengikuti semua arahan dari perempuan tersebut. Simak ulasan lengkap dari Berita Terkini Indonesia Kamboja.

Dari Janji Manis ke Perjalanan Mencurigakan

PI kemudian menyetujui tawaran itu dan langsung mengurus paspor lewat calo di Bandung. Ia menjalani proses tersebut dengan cepat dan lancar, seolah semua sudah disiapkan sejak awal. Kemudahan itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa pekerjaan tersebut benar-benar nyata. “Semua sudah diatur, saya tinggal ikut saja,” katanya.

Di tengah perjalanan, PI mulai merasakan kejanggalan. Ia tidak terbang langsung ke Singapura seperti yang dijanjikan sebelumnya. Ia justru berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Kuala Lumpur, Malaysia, lalu melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh, Kamboja.

Pada titik ini, rasa tidak nyaman mulai muncul. Namun, ia tetap mencoba berpikir positif. “Saya pikir mungkin jalurnya saja yang beda,” ujarnya. Sayangnya, kenyataan di depan jauh dari bayangannya.

Bukan Restoran, Tapi Dipaksa Jadi Penipu

Sesampainya di Kamboja, seseorang langsung membawa PI ke sebuah kompleks tertutup dengan penjagaan ketat. Ia melihat lokasi itu seperti “kota dalam kota”, lengkap dengan pagar tinggi dan penjagaan bersenjata. Saat itu juga ia mulai menyadari kejanggalan besar.

“‘Di situ saya baru sadar, ini bukan kerja restoran. Kami dipaksa jadi pelaku scam,’” katanya.

PI dan puluhan orang lainnya menjalani pekerjaan sebagai pelaku penipuan online. Mereka menghafal skrip, berpura-pura menjadi orang lain, dan menargetkan korban, yang sebagian besar berasal dari Indonesia. Pihak perusahaan bahkan menyediakan data korban seperti NIK, alamat, hingga nomor telepon.

Target yang mereka hadapi pun sangat tinggi. Mereka harus menghasilkan uang ratusan juta rupiah setiap bulan. PI bahkan pernah mencapai omzet hingga Rp1,8 miliar dalam satu bulan. Namun, angka besar itu tidak memberinya kebebasan sedikit pun.

Baca Juga: Geger! Polisi Ungkap Sindikat Penipuan Daring di Poipet, Ratusan Orang Diamankan

Target Gagal, Siksaan Datang

Target Gagal, Siksaan Datang

Di tempat itu, tidak ada ruang untuk gagal. Saat target tidak tercapai, para pelaku langsung memberi hukuman. PI merasakan sendiri siksaan yang sangat kejam.

“‘Mereka memasukkan saya ke sel, tidak memberi saya makan selama tiga hari, dan melarang saya tidur,’” ungkapnya.

Ia juga menyaksikan kekerasan yang menimpa rekan-rekannya. Para pelaku memukul, menyetrum, bahkan menjual pekerja ke lokasi lain jika mereka tidak mencapai target. Situasi ini membuat PI hidup dalam ketakutan setiap hari.

Saat PI gagal memenuhi target, para pelaku memindahkannya ke wilayah perbatasan Thailand dan memaksanya bekerja sebagai admin judi online. Di tempat baru itu, tekanan tetap tinggi dan siksaan terus berulang.

“‘Rasanya seperti tidak punya pilihan. Mau melawan, takut. Tapi kalau diam, tetap disiksa,’” ujarnya.

Berani Melawan, Meski Nyaris Putus Asa

Dalam kondisi tertekan, PI akhirnya mengambil keputusan untuk melawan. Ia tidak sanggup melihat seorang pekerja perempuan disiksa di depan matanya. Dari situ, keberaniannya mulai tumbuh.

“‘Saya enggak kuat dengar jeritan teman. Akhirnya kami coba melawan, dobrak kantor,’” katanya.

Namun, upaya itu gagal. Para pelaku kembali menyiksa mereka, menyetrum, dan memasukkan mereka ke dalam sel. Setelah kejadian itu, mereka memindahkan PI ke penjara di wilayah Siem Reap, Kamboja.

Di sana, kondisi hidupnya semakin buruk. Ia harus menghadapi makanan yang tidak layak dan perlakuan yang tidak manusiawi. “‘Kami seperti bukan manusia lagi di sana,’” ucapnya lirih.

Akhirnya Pulang, Tapi Trauma Masih Tersisa

Harapan akhirnya muncul ketika keluarga PI melapor ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh. Setelah melalui proses panjang, pihak KBRI berhasil membebaskannya dari penahanan.

Namun, perjuangan PI belum berakhir. Ia menjalani masa isolasi sebelum akhirnya pulang ke Indonesia dengan biaya sendiri sekitar Rp3 juta.

“‘Saya pulang pakai uang sendiri. Waktu itu sudah dekat Lebaran, rasanya campur aduk,’” katanya.

Meski sudah kembali ke tanah air, rasa bersalah terus menghantuinya. Ia menyesali keterlibatannya dalam praktik penipuan, meski ia melakukannya dalam kondisi terpaksa.

“‘Saya merasa bersalah. Bahkan ada korban yang ternyata dekat dengan keluarga sendiri,’” ujarnya.

Kini, PI berharap kisahnya bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang. Ia mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran kerja di luar negeri yang terdengar terlalu mudah dan menggiurkan.

“‘Kalau ada tawaran gaji besar, semua ditanggung, mending jangan langsung percaya. Saya sudah jadi korban,’” pungkasnya.