Terjebak Janji Palsu, Kisah Pilu Warga Bengkulu Jadi Korban TPPO di Kamboja!

Silakan Share

Dua warga Bengkulu terperangkap janji palsu pekerjaan, akhirnya menjadi korban TPPO di Kamboja, mengalami penderitaan berat.

Kisah Pilu Warga Bengkulu Jadi Korban TPPO di Kamboja!

Dua warga Bengkulu menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang di Kamboja. Mereka dijanjikan pekerjaan di restoran Vietnam, namun dipaksa menjadi scammer di Phnom Penh. Ketua Komisi IV DPRD Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring, menerima laporan dan langsung berkomunikasi dengan korban.

Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Situasi Terkini Kamboja.

Modus Penipuan Awal

Hamrizal, salah satu korban dari Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang, menceritakan awal mula kejadian pada Januari 2026. Ia dikenalkan oleh seseorang berinisial P kepada agen perekrut berinisial R, yang ternyata memiliki rekam jejak memberangkatkan banyak orang ke Kamboja.

Hamrizal diminta tinggal di kontrakan rekan R, yaitu A, di Kota Bengkulu sambil menunggu proses pembuatan paspor. Agen R, yang disebut berasal dari Jawa-Lampung dan menikah dengan orang Bengkulu, Maras, menanggung semua biaya perjalanan, termasuk pengurusan paspor.

Komunikasi antara R dan para korban selalu dilakukan melalui telepon, dan saat ini nomor R sudah tidak aktif. Hal ini menunjukkan modus operandi pelaku yang cenderung menghindari kontak langsung dan meninggalkan jejak minim untuk mempersulit pelacakan.

Perjalanan Penuh Kecurangan

Setelah mengalami kesulitan membuat paspor di Bengkulu, Hamrizal dan Joni berhasil mendapatkan paspor di Bukit Tinggi, setelah sebelumnya mencoba di Dumai, Riau. Semua biaya yang terkait dengan pengurusan paspor dan perjalanan ditanggung oleh R.

Dari Dumai, kedua korban diberangkatkan menggunakan kapal laut menuju Malaysia. Saat berada di Dumai, mereka baru diberitahu bahwa tujuan akhir perjalanan bukanlah Vietnam seperti yang dijanjikan, melainkan Phnom Penh, Kamboja.

Setibanya di Malaysia, mereka sempat kebingungan dan tidak memiliki uang untuk kembali ke Indonesia. Mereka hanya dijelaskan akan bekerja sebagai “penjual online” di Kamboja, sebuah penjelasan yang sangat umum dan minim detail untuk pekerjaan yang sebenarnya.

Baca Juga: Dramatis! Korban TPPO Asal Sumsel Terlunta di Kamboja, Pemprov Didesak Bertindak

Terjebak Lingkaran Scammer

 Terjebak Lingkaran Scammer

Meskipun merasa ada kejanggalan, Hamrizal dan Joni melanjutkan perjalanan mereka ke Kamboja. Setibanya di Phnom Penh, mereka dijemput dan dibawa berkendara selama enam jam menuju sebuah gedung misterius yang dipenuhi oleh pekerja komputer.

Di sinilah kenyataan pahit terungkap, mereka tidak dipekerjakan di restoran seperti yang dijanjikan, melainkan dipaksa bekerja sebagai scammer. Mereka terjebak dalam sindikat penipuan online yang beroperasi di Kamboja.

Kasus ini menyoroti kerentanan masyarakat terhadap janji-janji pekerjaan palsu dan perlunya kewaspadaan terhadap modus operandi TPPO yang semakin canggih, terutama yang melibatkan penipuan lintas negara.

Upaya Penyelamatan Dan Peringatan

Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring, telah berkomunikasi langsung dengan para korban melalui panggilan video untuk mendapatkan informasi detail. Upaya penyelamatan sedang diupayakan agar Hamrizal dan Joni bisa segera kembali ke tanah air.

Pemerintah daerah dan pihak berwenang diharapkan dapat berkoordinasi dengan instansi terkait di tingkat nasional untuk menangani kasus ini dengan serius. Pencegahan dan penindakan TPPO harus menjadi prioritas utama.

Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap tawaran pekerjaan yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, terutama yang melibatkan perjalanan ke luar negeri dengan proses yang tidak transparan. Selalu verifikasi informasi dan laporkan jika menemukan indikasi TPPO.

Jangan lewatkan Situasi Terkini Kamboja beserta informasi inspiratif lain untuk menambah wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari regional.kompas.com
  • Gambar Kedua dari armytimes.com