Waspada! Ratusan WNI Jadi Korban Penipuan Rekrutmen Online Di Kamboja

Silakan Share

Ratusan WNI jadi korban penipuan rekrutmen online di Kamboja, Modusnya via medsos, pekerjaan palsu menjerat pekerja muda.

Waspada! Ratusan WNI Jadi Korban Penipuan Rekrutmen Online Di Kamboja

Waspada rekrutmen online! Ratusan WNI terjebak perusahaan scam di Kamboja yang menjanjikan pekerjaan lewat medsos, tapi berujung kerugian. Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Situasi Terkini Kamboja–Thailand.

249 WNI Terjebak Perusahaan Scam Di Kamboja

Bareskrim Polri mengungkap kasus 249 WNI bermasalah yang bekerja di perusahaan penipuan dan judi online di Kamboja. Mereka direkrut melalui media sosial. Modus ini memanfaatkan grup lowongan kerja di Facebook dan Telegram, dengan janji pekerjaan menarik seperti operator e-commerce, pelayan restoran, customer service, hingga judi online.

Para WNI ini mendapatkan tiket keberangkatan langsung dari perekrut dan hanya perlu mengikuti rute perjalanan yang telah ditentukan. Mereka diberangkatkan menggunakan visa turis melalui jalur Medan-Batam-Singapura-Kamboja, Jakarta-Singapura-Kamboja, atau Batam-Malaysia-Kamboja. Setibanya di Kamboja, para pekerja langsung dibawa ke perusahaan scam yang dijaga ketat.

Pihak Bareskrim menyebutkan sebagian besar WNI direkrut oleh WNI lain yang sudah tinggal di Kamboja. Perekrut memberikan fasilitas tiket keberangkatan, sehingga calon korban hanya mengikuti instruksi tanpa banyak pertimbangan. Tindakan ini membuat mereka terjebak dalam modus penipuan internasional yang menuntut kerja dengan jam panjang dan tekanan tinggi.

Modus Rekrutmen Melalui Medsos

Berdasarkan keterangan 249 WNI, perekrut menggunakan metode daring. Lowongan pekerjaan dipublikasikan di grup Facebook dan Telegram dengan iming-iming gaji Rp 6–8 juta per bulan. Pekerjaan yang ditawarkan terlihat resmi, sehingga banyak yang percaya dan tertarik mengikuti proses rekrutmen.

Setelah tiba di Kamboja, para WNI bekerja 14–18 jam setiap hari. Mereka tinggal di gedung perusahaan, yang juga menjadi tempat tinggal mereka, di bawah pengawasan ketat. Aktivitas di luar gedung dibatasi, sehingga pekerja tidak bisa keluar atau menghubungi pihak luar secara bebas.

Selama bekerja, beberapa WNI belum menerima gaji sesuai janji. Pembayaran dilakukan tunai oleh perusahaan, tapi sebagian tidak dibayarkan. Kondisi ini menimbulkan tekanan mental dan ketidakpastian finansial, membuat para pekerja merasa terjebak di luar negeri tanpa perlindungan.

Baca Juga: Delegasi Kamboja Belajar Pengelolaan Air Bersih Dari Kebumen, Inspirasi Untuk Ketahanan Air Global!

Rute Perjalanan Dan Pengawasan Ketat

 Rute Perjalanan Dan Pengawasan Ketat 700

Rute keberangkatan para WNI umumnya melalui Medan-Batam-Singapura-Kamboja, Jakarta-Singapura-Kamboja, dan Batam-Malaysia-Kamboja. Perekrut memberikan tiket dan dokumen perjalanan, sehingga calon pekerja hanya tinggal menempuh jalur yang sudah diatur.

Setibanya di perusahaan scam, WNI langsung ditempatkan di gedung kerja yang dijaga ketat. Mereka tinggal dan bekerja di lokasi yang sama selama 2 bulan hingga 1,5 tahun. Semua aktivitas diawasi, termasuk makan, istirahat, dan waktu kerja, sehingga pekerja merasa terisolasi dan sulit menghubungi pihak luar.

Pengawasan ketat ini membuat banyak WNI merasa takut dan tidak berani menolak perintah perusahaan. Situasi ini juga menyulitkan mereka untuk melaporkan kondisi atau mengajukan bantuan hukum hingga dipulangkan ke Indonesia.

Pemulangan Dan Kondisi WNI

Hingga kini, 249 WNI telah dipulangkan dalam keadaan sehat. Namun, sebagian besar tidak membawa dokumen atau bukti terkait keberangkatan. Banyak HP dan dokumen penting ditahan oleh perusahaan, sehingga para pekerja tidak memiliki rekam jejak transaksi atau bukti pekerjaan mereka.

Sebagian besar WNI dipulangkan dari Myawaddy, Myanmar, pada November-Desember 2025, dan dari Phnom Penh, Kamboja, pada Januari 2026. Tiga WNI berencana melapor ke Polda Sumut untuk menindaklanjuti kasus ini sesuai alamat domisili masing-masing.

Pihak kepolisian memastikan pemulangan dilakukan dengan koordinasi yang ketat untuk menjaga keamanan para korban. Meski sudah kembali ke tanah air, trauma dan pengalaman terjebak dalam scam internasional tetap membekas bagi para pekerja.

Imbauan Bareskrim Dan Pencegahan

Bareskrim Polri mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap tawaran kerja via media sosial. Informasi lowongan yang mencurigakan harus diverifikasi terlebih dahulu, terutama jika melibatkan pembayaran atau pengaturan perjalanan oleh pihak ketiga.

Perekrutan internasional sebaiknya dilakukan melalui jalur resmi, seperti lembaga penyalur kerja yang terdaftar di BNP2TKI atau kedutaan negara tujuan. WNI yang menerima tawaran kerja dari orang perorangan di luar jalur resmi disarankan menolak untuk menghindari risiko menjadi korban penipuan.

Kasus ini menjadi pelajaran penting agar calon pekerja Indonesia selalu waspada terhadap modus penipuan daring. Kepolisian juga berjanji menindaklanjuti laporan korban dan memperketat pengawasan untuk mencegah praktik serupa di masa depan.

Jangan lewatkan berita terbaru Indonesia Kamboja beserta informasi inspiratif lain untuk menambah wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari tribratanews.polri.go.id
  • Gambar Kedua dari liputan6.com