Operasi Senyap Berakhir, Bandar Judi Daring Diekstradisi Kamboja Ke China
Kabar mengejutkan datang dari Kamboja, di mana konglomerat terkemuka Chen Zhi, Ketua Prince Holding Group, telah diekstradisi ke China.
Penangkapan dan ekstradisi ini bukan kasus biasa, melainkan bagian dari upaya global memberantas kejahatan perjudian daring dan penipuan yang terorganisir. Kasus Chen Zhi membuka tabir praktik kejahatan transnasional yang melibatkan miliaran dolar dan menyoroti peran penting kerja sama internasional dalam memberantasnya. Perjalanan Chen Zhi dari desa nelayan kecil hingga menjadi buronan internasional ini adalah kisah yang patut disimak.
Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Situasi Terkini Kamboja.
Ekstradisi Besar-Besaran, Kamboja Serahkan Buronan Penting
Pemerintah Kamboja mengumumkan ekstradisi penting ini setelah berhasil menangkap Chen Zhi, seorang figur yang dituduh menjalankan operasi perjudian daring berskala besar. Ekstradisi ini merupakan hasil dari kerja sama erat antara Kamboja dan China, menandai komitmen bersama untuk memerangi kejahatan transnasional.
Kementerian Luar Negeri China memuji penangkapan ini sebagai tanggung jawab bersama dalam memberantas perjudian daring yang merugikan banyak pihak. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa pemberantasan kejahatan semacam ini adalah tugas kolektif komunitas internasional.
Ekstradisi ini juga mencakup dua warga negara China lainnya, yang ditangkap dan diekstradisi pada Selasa (6/1) atas permintaan otoritas China. Langkah ini menunjukkan efektivitas kerja sama penegakan hukum lintas batas dalam menargetkan para pelaku kejahatan besar.
Profil Kontroversial Chen Zhi, Dari Pengusaha Properti Hingga Raja Penipuan
Chen Zhi, yang kini berusia 38 tahun, digambarkan dalam siaran televisi di China sebagai “pemimpin sindikat kejahatan perjudian dan penipuan transnasional besar.” Identitasnya pun kompleks, ia lahir di China, memiliki kewarganegaraan Kamboja yang kemudian dicabut, dan kini menghadapi dakwaan di berbagai negara.
Jaksa penuntut Amerika Serikat menuduhnya sebagai dalang penipuan siber multinasional. Menggunakan bisnisnya sebagai kedok untuk pencucian uang dan kekerasan terhadap pekerja. Pihak berwenang AS bahkan telah menyita asetnya senilai lebih dari 14 miliar dolar AS dalam bentuk mata uang kripto dan properti.
Kisah masa lalu Chen Zhi juga tak kalah menarik, ia berasal dari desa nelayan kecil di Provinsi Fujian dan bahkan tidak tamat sekolah menengah. Ia sempat terlibat dalam pembajakan server gim ilegal sebelum melarikan diri ke Kamboja pada tahun 2010 dan membangun identitas baru sebagai “pengembang properti.”
Baca Juga: Siapa Saja yang Ikut Bermain Pada Perang Kamboja Vs Thailand?
Jaringan Kejahatan Transnasional Dan Kerugian Besar
Prince Group, perusahaan yang didirikan oleh Chen Zhi, disebut mengoperasikan lebih dari 100 bisnis di 30 negara, dengan jaringan pusat penipuan terutama di Kamboja dan Myanmar. Modus penipuan “sha zhu pan” (penipuan asmara/investasi) menjadi salah satu taktik mereka untuk mengelabui korban.
Kerugian yang ditimbulkan sangat fantastis, Chen dituduh menipu 250 warga Amerika hingga jutaan dolar. Dengan salah satu korban kehilangan 400.000 dolar AS dalam mata uang kripto. Selain itu, otoritas Inggris, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong juga telah menyita aset-asetnya yang bernilai miliaran.
Meski Prince Group sebelumnya membantah keterlibatan dalam penipuan dan mengklaim telah memutus hubungan dengan kawasan perjudian daring. Media menyebut hingga 2025, grup ini masih mengendalikan lebih dari 10 lokasi ilegal di Kamboja. Salah satu “peternakan ponsel” mereka bahkan mengoperasikan lebih dari 76.000 akun media sosial palsu untuk menipu korban.
Komitmen Internasional Melawan Kejahatan Lintas Negara
Ekstradisi Chen Zhi ini menunjukkan komitmen China dan Kamboja dalam meningkatkan kerja sama penegakan hukum. Mao Ning menyatakan kesiapan China untuk bekerja sama dengan negara-negara tetangga guna melindungi keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat dari ancaman kejahatan semacam ini.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para pelaku kejahatan siber dan perjudian daring bahwa tidak ada tempat yang aman bagi mereka. Kerja sama intelijen dan penegakan hukum antarnegara semakin kuat, menutup celah bagi para penjahat transnasional untuk bersembunyi.
Pemberantasan perjudian daring dan penipuan telekomunikasi adalah tanggung jawab kolektif yang membutuhkan koordinasi tanpa henti. Kisah Chen Zhi menjadi contoh nyata bagaimana upaya bersama dapat membongkar jaringan kejahatan kompleks dan membawa para pelakunya ke hadapan hukum.
Buat kalian yang ingin mendapatkan berita terbaru dan terupdate setiap hari. Kalian bisa kunjungi Situasi Terkini Kamboja, yang dimana akan selalu memberikan informasi menarik lainnya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari antaranews.com
- Gambar Kedua dari kompas.id