Misteri Kematian Argo Prasetyo, KBRI Phnom Penh Desak Investigasi Menyeluruh di Kamboja

Silakan Share

KBRI Phnom Penh mendesak investigasi menyeluruh atas kematian Argo Prasetyo di Kamboja yang penuh misteri.

Misteri Kematian Argo Prasetyo, KBRI Phnom Penh Desak Investigasi Menyeluruh di Kamboja

Kasus kematian Argo Prasetyo, WNI asal Langkat, di Kamboja menjadi sorotan serius. Ia meninggal 30 September 2025 dengan luka-luka, memicu desakan KBRI Phnom Penh untuk investigasi menyeluruh. Jenazahnya baru dipulangkan setelah hampir dua bulan, menyoroti kompleksitas masalah Pekerja Migran Indonesia non-prosedural di luar negeri.

Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya tentang seputaran Berita Indonesia Kamboja.

Desakan Investigasi Dan Pemulangan Jenazah Yang Dramatis

KBRI Phnom Penh secara resmi telah mendesak otoritas Kamboja untuk mengusut tuntas kematian Argo Prasetyo. Desakan ini muncul mengingat kondisi jenazah Argo yang penuh luka saat ditemukan, menimbulkan dugaan kuat adanya penganiayaan. Pihak kedutaan menegaskan akan terus memantau perkembangan investigasi ini.

Proses pemulangan jenazah Argo Prasetyo ke Indonesia menghadapi berbagai kendala. Setelah hampir dua bulan sejak kematiannya, jenazah baru bisa dipulangkan pada Kamis (13/11/2025). Kerumitan ini diperparah oleh status Argo yang diduga bekerja secara non-prosedural, menyulitkan identifikasi dan koordinasi awal.

Akhirnya, pembiayaan pemulangan jenazah harus dihimpun dari donatur. Ini menunjukkan betapa beratnya perjuangan KBRI dalam menangani kasus WNI non-prosedural. Koordinasi intensif telah dilakukan untuk memastikan hak-hak Argo tetap terpenuhi, meskipun dalam kondisi yang sangat menantang.

Peningkatan Kasus WNI Dan Bahaya Tawaran Kerja Ilegal

Duta Besar RI untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, menyoroti peningkatan drastis kasus WNI di Kamboja. Hingga triwulan III 2025, KBRI Phnom Penh telah menangani 4.030 kasus WNI, meningkat lebih dari 50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi indikasi serius dari fenomena pekerja migran non-prosedural.

Santo Darmosumarto menekankan perlunya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap tawaran kerja di luar negeri yang menjanjikan gaji tinggi dengan persyaratan minimal. Tawaran semacam ini seringkali menjadi jebakan bagi para calon pekerja migran yang kurang informasi atau terdesak oleh kebutuhan ekonomi.

“Diperlukan kesadaran dan kerja sama dari segenap pihak untuk bersama-sama menangani permasalahan pelindungan WNI di Kamboja,” tegas Santo. Pernyataan ini menunjukkan bahwa perlindungan WNI bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat dan keluarga.

Baca Juga: Tragis, WNI Meninggal di Kamboja Jenazah Segera Dibawa ke Tanah Air

Kendala Identifikasi Dan Dugaan Penganiayaan

Misteri Kematian Argo Prasetyo, KBRI Phnom Penh Desak Investigasi Menyeluruh di Kamboja

Awalnya, Argo Prasetyo sempat dikira warga Vietnam. Hal ini disebabkan oleh kondisi fisiknya yang parah, sehingga ia tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Cedera di wajah dan tubuhnya saat ditemukan terlantar di pinggir jalan Provinsi Svay Rieng, semakin mempersulit proses identifikasi awal.

Baru setelah berita tentang kondisi Argo viral di media sosial, identitasnya sebagai WNI terungkap. KBRI segera bergerak cepat untuk mencari keberadaannya dan menemukannya di RS Umum Svay Rieng pada pagi hari 30 September. Kejadian ini menyoroti pentingnya peran media sosial dalam membantu penanganan kasus-kasus WNI di luar negeri.

Pejabat KBRI secara tegas menyatakan bahwa penyelidikan komprehensif sangat diperlukan. Dugaan penganiayaan yang dialami korban merupakan titik krusial dalam kasus ini. Argo meninggal pada sore hari di tanggal yang sama akibat cedera parah, dengan laporan kepolisian Kamboja mencatat penyebab kematian adalah cedera kepala berat.

Urgensi Perlindungan WNI Dan Edukasi Migrasi Aman

Kasus Argo Prasetyo menjadi pengingat yang menyakitkan tentang risiko tinggi yang dihadapi WNI yang bekerja di luar negeri secara non-prosedural. Kurangnya dokumen resmi dan informasi mengenai tempat kerja membuat mereka rentan terhadap eksploitasi, penganiayaan, dan kesulitan akses bantuan konsuler.

Pemerintah Indonesia, melalui KBRI, terus berupaya maksimal dalam memberikan perlindungan kepada WNI. Namun, peran edukasi mengenai migrasi aman dan jalur resmi sangat krusial. Masyarakat perlu dibekali informasi yang memadai agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan ilegal yang membahayakan nyawa.

Koordinasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah menjadi kunci. Dengan sinergi yang kuat, diharapkan kasus serupa tidak terulang kembali. Perlindungan WNI di luar negeri adalah tanggung jawab bersama untuk memastikan setiap warga negara mendapatkan hak-haknya, di mana pun mereka berada.

Buat kalian yang ingin mendapatkan berita terbaru dan terupdate yang tentunya terpecaya hanya di Berita Indonesia Kamboja.


Sumber Informasi Gambar:

  1. Gambar Pertama dari voiceindonesia.co
  2. Gambar Kedua dari medan.kompas.com