Tangis Ibu Tak Tertahankan, Putranya Warga Binjai Terpenjara di Kamboja
Tangis Badriah pecah saat mengetahui putranya, Ardiansyah, warga Binjai, ditahan di penjara Phnom Penh, Kamboja.
Sudah berhari-hari ia menanti kabar, sementara keluarga berharap pemerintah Indonesia segera memberikan perlindungan dan pendampingan hukum. Kisah ini mengungkap risiko WNI yang bekerja di luar negeri, terjerat janji gaji besar, dan berujung menghadapi hukum asing.
Simak dan ikutin terus informasi terbaru dan terviral lainnya hanya ada di Berita Indonesia Kamboja.
Air Mata Ibu, Anak Terperangkap di Kamboja
Tangis Bardiah pecah saat menceritakan nasib putranya, Ardiansyah Putra (26), yang sudah 47 hari mendekam di penjara Phnom Penh, Kamboja. Setiap hari, kecemasan dan kekhawatiran menyelimuti dirinya, sementara kepastian nasib Ardiansyah masih jauh dari jangkauan.
Tidak hanya Ardiansyah, 26 Warga Negara Indonesia (WNI) lainnya juga ditangkap pada Januari 2026 dalam operasi pemberantasan kejahatan penipuan daring (online scam) yang digelar aparat keamanan Kamboja di Phnom Penh. Penangkapan mendadak itu membuat keluarga-keluarga WNI terkejut dan bingung menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.
Sejak kabar itu diterima melalui telepon dari seorang pria bernama Roki yang disebut bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh, Bardiah hidup dalam ketakutan dan kesedihan. “Saya sangat kaget, tidak ada firasat apa-apa, tiba-tiba dibilang anak saya ditangkap dan dipenjara, saya tidak tahu harus berbuat apa,” katanya dengan suara bergetar.
Hari-Hari Penuh Kecemasan di Rumah Sederhana
Penantian dan harapan keluarga kini digantungkan pada pemerintah Indonesia agar turun tangan membantu WNI yang ditahan. Hingga Sabtu, 27 Februari 2026, Bardiah dan keluarga masih menanti perkembangan proses hukum dari kediaman sederhana mereka di Jalan Teuku Umar, Kelurahan Nangka, Kecamatan Binjai Utara, Kota Binjai, Sumatera Utara.
Dari informasi yang diterima, Ardiansyah kini menghuni satu sel bersama lima WNI lainnya. Meski begitu, keluarga belum memperoleh kejelasan rinci mengenai proses hukum yang sedang dijalani putranya, termasuk status dakwaan maupun jadwal persidangan.
Hari-hari Bardiah kini diliputi kecemasan. Ia mengaku sulit tidur, membayangkan kondisi Ardiansyah di balik jeruji besi negeri orang. Ia tidak mengetahui apakah putranya dalam keadaan sehat, cukup makan, atau bagaimana perlakuan yang diterimanya selama berada di tahanan.
Baca Juga: Bukan Korban TPPO! Kemlu RI Ungkap Ribuan WNI Di Kamboja Mengaku Scammer
Janji Gaji Tinggi, Akhirnya di Penjara
Menurut penuturan keluarga, Ardiansyah pergi ke luar negeri demi mencari pekerjaan dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Namun, alih-alih mendapatkan pekerjaan yang layak, ia diduga terjerat jaringan yang terkait dengan praktik penipuan daring lintas negara modus yang kerap dikaitkan dengan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Kisah Ardiansyah mencerminkan sisi gelap maraknya perekrutan tenaga kerja ilegal yang menjanjikan gaji besar di luar negeri. Tidak sedikit WNI berangkat dengan harapan memperbaiki nasib, tetapi justru terjebak dalam lingkaran eksploitasi yang berujung pada persoalan hukum di negara tujuan.
Bagi Bardiah, putranya bukan pelaku kejahatan, melainkan korban keadaan. Ia yakin Ardiansyah hanyalah pemuda yang ingin bekerja dan membantu orang tua. “Anak saya tidak pernah macam-macam, dia pergi karena ingin bekerja, membantu keluarga. Kalau memang ada kesalahan, saya yakin itu bukan karena niat jahat,” ujarnya tegas.
Harapan Keluarga pada Pemerintah Indonesia
Dengan segala kerendahan hati, Bardiah memohon agar pemerintah hadir memberikan perlindungan maksimal bagi Ardiansyah dan WNI lainnya yang ditahan di Kamboja. Ia berharap ada pendampingan hukum, kejelasan status perkara, serta langkah diplomatik untuk memulangkan mereka ke Tanah Air.
“Kami hanya rakyat kecil, tidak punya siapa-siapa selain berharap pada negara,” kata Bardiah sambil meneteskan air mata. Ia berharap pemerintah tidak tinggal diam, melainkan segera membuka jalan bagi kepulangan putranya.
Kisah Ardiansyah menjadi pengingat bagi keluarga dan masyarakat tentang risiko bekerja di luar negeri tanpa jalur resmi. Sementara itu, perhatian publik kini tertuju pada langkah diplomasi pemerintah dalam menyelamatkan warganya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari sumut.idntimes.com
- Gambar Kedua dari sumut.idntimes.com