Konflik Perbatasan Meledak! Kamboja Berusaha Perbaiki Hubungan Dengan Thailand
Ketegangan di perbatasan Thailand-Kamboja meningkat tajam, memicu konflik baru, sementara Kamboja berusaha memulihkan hubungan diplomatik tegang.
Situasi perbatasan Thailand–Kamboja kembali memanas. Kamboja mendesak Thailand melanjutkan pembicaraan demarkasi yang sempat tertunda, sementara tuduhan baku tembak dan klaim teritorial saling bertentangan memperparah ketegangan. Kamboja berupaya menyelesaikan masalah melalui jalur diplomasi agar konflik tidak meningkat.
Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Situasi Terkini Kamboja–Thailand.
Kamboja Mendesak Pembicaraan Perbatasan Dilanjutkan
Kamboja secara resmi telah meminta Thailand untuk segera memulai kembali pembicaraan demarkasi perbatasan yang telah lama tertunda. Phnom Penh memperingatkan bahwa penundaan berkelanjutan dapat memperdalam ketegangan di sepanjang perbatasan. Ini terjadi di tengah adanya laporan tuduhan baku tembak dan klaim teritorial yang saling bersaing.
Sekretariat Negara Urusan Perbatasan Kamboja telah mengirimkan Nota Verbal kepada Komite Perbatasan Gabungan (JBC) Thailand, mendesak dimulainya kembali survei pada minggu pertama bulan Maret. Thailand sebelumnya menunda pertemuan ini sebanyak dua kali, mengutip alasan pemilihan umum pada 8 Februari dan pembentukan kabinet baru.
Kamboja menyatakan bahwa tidak ada lagi alasan untuk menunda, mengingat pemilihan umum di Thailand telah selesai. Pekerjaan survei ini penting untuk memasang kembali patok sementara antara pilar batas 42 dan 47, serta 52 dan 59. Selain itu, ada 15 pilar batas yang disepakati kedua belah pihak dalam pertemuan JBC 22 Oktober 2025 di Provinsi Chanthaburi yang perlu diganti.
Protes Kamboja Atas Tindakan Unilateral Thailand
Selain pembicaraan terhenti, Kamboja memprotes dugaan tindakan unilateral militer Thailand di wilayah perbatasan sengketa, termasuk perubahan lanskap dan kerusakan properti sipil serta infrastruktur. Kamboja menuduh tindakan itu melanggar Memorandum of Understanding 2000.
Sekretariat menyatakan tindakan seperti perubahan nama Jalan Nasional No. 58 dan pembangunan kanal melanggar Deklarasi Bersama dari pertemuan Komite Perbatasan Umum (GBC) ketiga. Tuduhan juga mencakup pembangunan jalan, parit, dan penanaman bendera Thailand di area Kuil Ta Moan dan Preah Vihear.
Pejabat Kamboja menuduh pasukan Thailand mengubah lingkungan sekitar kompleks Kuil Ta Moan dan area Kuil Preah Vihear. Pertemuan JBC terakhir awalnya diusulkan pada awal Januari, namun Thailand meminta dua penundaan, menunggu pembentukan pemerintahan barunya.
Baca Juga: Diplomasi Tingkat Tinggi, Raja dan Ibu Ratu Kamboja Mulai Kunjungan ke Tiongkok
Ketegangan Meningkat Dengan Tuduhan Baku Tembak
Ketegangan memuncak dengan sengketa terpisah yang menambah bahan bakar situasi rapuh. Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja membantah klaim di situs web militer Thailand dan media tertentu, yang menuduh pasukan Kamboja menembakkan granat 40mm dekat pangkalan patroli Thailand di Provinsi Preah Vihear.
Letnan Jenderal Maly Socheata, juru bicara kementerian, tegas membantah tuduhan itu. Ia mendesak Thailand menghentikan penyebaran informasi palsu yang bisa memicu ketegangan, dan menjelaskan tim penghubung kedua pihak telah berkomunikasi, dengan Kamboja menegaskan pasukannya tidak menembakkan senjata.
Perang kata ini telah merambah ke ranah diplomatik, dengan Perdana Menteri Hun Manet menyuarakan kekhawatiran tentang “pelanggaran teritorial” Thailand. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, mengatakan kepada France 24 bahwa Kamboja tampaknya ingin “menginternasionalisasi” sengketa tersebut.
Upaya Diplomasi Dan Jalan ke Depan
Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menyatakan telah berkomunikasi dengan mitranya dari Kamboja, bahkan melalui WhatsApp. Upaya ini bertujuan mencegah eskalasi lebih lanjut, mengingat konflik baru hanya akan menyebabkan kerugian bagi kedua belah pihak. Ini menunjukkan adanya keinginan untuk meredakan situasi melalui jalur diplomatik.
Dalam upaya menunjukkan transparansi, Kamboja pada 23 Februari mengawal 23 diplomat dan perwakilan lembaga internasional ke area yang disebutnya sebagai lokasi pemasangan kawat berduri dan kontainer oleh pasukan Thailand. Klaimnya, tindakan ini menghalangi penduduk desa Kamboja untuk kembali ke rumah mereka.
Untuk saat ini, Phnom Penh menekankan bahwa melanjutkan survei demarkasi perbatasan adalah satu-satunya cara konstruktif ke depan. Langkah teknis ini, menurut Kamboja, dapat membantu meredakan kebuntuan politik dan militer yang kembali mengancam untuk memburuk dan berpotensi memicu konflik lebih luas.
Jangan lewatkan Situasi Terkini Kamboja–Thailand beserta informasi inspiratif lain untuk menambah wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari cambodianess.com
- Gambar Kedua dari koran-jakarta.com