Ratusan Ribu WNA Kabur Dari Kamboja Usai Otoritas Tangkap Pelaku Scam, WNI Turut Terdampak!
Otoritas Kamboja menangkap pelaku scam daring, memicu ratusan ribu WNA kabur, termasuk warga negara Indonesia terdampak.
Kamboja kembali menjadi sorotan setelah otoritas menggerebek jaringan penipuan daring di Phnom Penh. Operasi ini mengungkap praktik kejahatan siber dan memicu eksodus warga asing. Ratusan ribu orang meninggalkan Kamboja demi menghindari kejaran petugas, menunjukkan skala masif kejahatan dan dampaknya, termasuk pada warga Indonesia.
Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Situasi Terkini Kamboja.
Operasi Besar-Besaran Melawan Jaringan Scam di Kamboja
Polisi Kamboja berhasil menggerebek jaringan penipuan berbasis teknologi di Phnom Penh. Sekretariat Komisi Pemberantasan Kejahatan Teknologi (CCTC) menangkap 81 orang, termasuk 72 warga Tiongkok dan 9 warga Myanmar. Operasi ini menyoroti aktivitas sindikat internasional yang beroperasi di Kamboja.
Laporan CCTC juga mengungkapkan dampak signifikan dari serangkaian operasi ini. Sebanyak 223.610 warga asing, termasuk dari Tiongkok, Vietnam, Indonesia, India, Bangladesh, dan Pakistan, memilih meninggalkan Kamboja secara sukarela. Mereka kabur antara 13 Januari hingga 26 Februari 2026, menghindari pengejaran oleh petugas penegak hukum.
Meskipun demikian, beberapa pimpinan operasi scam dilaporkan telah melarikan diri ke luar negeri atau bersembunyi di dalam negeri. Mereka mengubah metode operasional menjadi kelompok kecil di rumah-rumah sewaan atau terus bergerak secara mobile. Hal ini menunjukkan adaptasi jaringan kriminal untuk menghindari deteksi.
Dampak Ekodus Dan Penanganan WNI Bermasalah
Eksodus massal warga asing ini mencerminkan betapa parahnya situasi penipuan daring di Kamboja. Banyak dari mereka yang terlibat, atau khawatir terlibat, dalam aktivitas ilegal ini memutuskan untuk meninggalkan negara tersebut. Angka 223.610 orang dalam rentang waktu singkat menunjukkan betapa luasnya dampak operasi penindakan ini.
Indonesia menjadi salah satu negara yang warganya terdampak. Kementerian Luar Negeri RI bekerja sama dengan KBRI Phnom Penh telah memfasilitasi kepulangan gelombang ketiga Warga Negara Indonesia (WNI) atau Pekerja Migran Indonesia (PMI) bermasalah. Mereka merupakan korban atau pelaku dalam sektor penipuan daring dari Kamboja.
Dalam dua minggu ke depan, tercatat 257 WNI yang telah membeli tiket penerbangan kembali ke Indonesia. WNI yang memerlukan dokumen perjalanan sementara dan telah memperoleh fasilitasi keringanan denda keimigrasian juga membeli tiket kepulangan secara mandiri. Ini menunjukkan upaya serius pemerintah Indonesia dalam melindungi warganya.
Baca Juga: Mengejutkan! Kemlu Ungkap 4.882 WNI Di Kamboja Minta Dipulangkan Sejak Januari
Modus Operandi Dan Tantangan Keamanan Digital
Kasus scam di Kamboja bukan sekadar cerita kriminal lintas negara, melainkan juga kisah tragis warga negara yang terjerat pekerjaan palsu di luar negeri. Ini sering kali melibatkan perbudakan modern, penipuan kripto, dan judi online, seperti terungkap dari ekstradisi Chen Zhi dari Kamboja ke Tiongkok pada Januari 2026.
Digitalisasi, di satu sisi, merupakan indikator kemajuan masyarakat, namun di sisi lain juga memunculkan ancaman dan krisis baru, terutama bagi anak-anak. Meningkatnya kejahatan daring seperti phishing, social engineering, dan serangan siber lainnya mendorong perusahaan perbankan untuk terus memperkuat sistem keamanannya.
Tantangan kejahatan siber juga terlihat dari dugaan pemerasan berkedok wartawan yang menyerang BUMN dan perusahaan swasta dengan tuduhan laporan keuangan fiktif. Modus ancaman dan intimidasi ini menunjukkan kompleksitas dan variasi bentuk kejahatan di era digital.
Komitmen Kamboja Dan Peringatan Global
Otoritas Kamboja telah menunjukkan komitmen kuat untuk memberantas kejahatan daring. Selama delapan bulan terakhir, lebih dari 200 jaringan penipuan daring telah dibongkar, termasuk yang beroperasi di dalam kasino. Pemerintah menegaskan akan mengintensifkan upaya pemberantasan di 24 provinsi.
Pemerintah Kamboja menyatakan tidak akan memberikan ruang bagi jaringan kriminal, baik skala kecil maupun besar. Langkah tegas ini diharapkan dapat membersihkan citra Kamboja dari praktik kejahatan siber yang telah meresahkan banyak negara, termasuk Indonesia.
Kisah scam Kamboja ini menjadi peringatan global tentang bahaya kejahatan siber lintas negara. Perlu adanya kerja sama internasional yang lebih erat untuk menanggulangi sindikat kejahatan ini, melindungi warga negara, dan memastikan keamanan di ruang digital.
Jangan lewatkan Situasi Terkini Kamboja beserta informasi inspiratif lain untuk menambah wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari mediaindonesia.com
- Gambar Kedua dari kemlu.go.id