Kaki Tentara Thailand Putus! Ranjau Perbatasan Masih Mengintai Nyawa Berikutnya?

Silakan Share

Di perbatasan Thailand-Kamboja, ranjau tua meledak, membuat tentara kehilangan kaki dan ancaman terus mengintai warga.

ranjau tua meledak perbatasan Thailand-Kamboja

Insiden tragis di perbatasan Thailand-Kamboja mengguncang dunia. Seorang tentara Thailand kehilangan kaki kanannya akibat ledakan ranjau darat pada Jumat, 27 Februari 2026. Kejadian ini terjadi di tengah gencatan senjata rapuh, menambah ketegangan kedua negara dan memicu kekhawatiran internasional akan keselamatan pasukan serta warga sipil.

Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Situasi Terkini Kamboja–Thailand.

Insiden Ledakan Ranjau

Insiden terjadi sekitar subuh di Provinsi Surin, wilayah perbatasan Thailand yang sunyi. Seorang tentara menginjak ranjau darat saat patroli rutin di hutan lebat. Militer Thailand segera membawa korban ke rumah sakit untuk perawatan darurat yang menegangkan, di mana setiap menit menjadi pertaruhan hidup dan mati.

Pemeriksaan awal menunjukkan ranjau terkubur dalam di tanah liat, tertutup dedaunan licin. Ini mengindikasikan ranjau lama, bukan baru dipasang secara sengaja. Namun, kejadian ini tetap memicu kekhawatiran besar akan keamanan patroli harian, karena bahkan latihan rutin kini berubah menjadi risiko tinggi bagi prajurit.

Korban mengalami luka kritis dan kehilangan kaki kanan dalam operasi darurat. Militer Thailand menyatakan tentara tersebut dalam kondisi stabil pasca-operasi yang panjang. Keluarga korban mendapat dukungan penuh dari komando, menunjukkan solidaritas kuat dan rasa kemanusiaan di tengah konflik yang terus membayangi.

Latar Belakang Konflik Perbatasan

Perbatasan Thailand-Kamboja sepanjang 800 km diperebutkan sejak era kolonial Prancis yang kelam. Sengketa memuncak sejak musim panas 2025 dengan bentrokan bersenjata sengit, meninggalkan bekas luka fisik dan psikologis bagi masyarakat setempat. Puluhan nyawa melayang akibat tembak-menembak dan mortir mematikan, menciptakan trauma kolektif yang sulit dihapus.

Gencatan senjata Desember 2025 menjanjikan hentikan tembakan dan pembersihan ranjau secara bertahap. Kedua negara membeku pergerakan pasukan di zona panas. Namun, tuduhan saling melanggar terus bermunculan seperti badai yang tak kunjung reda, menimbulkan ketidakpastian yang menekan warga sipil dan tentara.

Lebih dari satu juta warga sipil mengungsi saat puncak konflik Juli-Desember 2025. Hutan lebat menyulitkan pengawasan ketat setiap inci tanah, membuat banyak warga harus hidup dalam ketakutan dan keterbatasan. Ranjau sisa konflik lama masih mengancam seperti bom waktu tersembunyi, selalu menunggu korban berikutnya.

Baca Juga: Ratusan Ribu WNA Kabur Dari Kamboja Usai Otoritas Tangkap Pelaku Scam, WNI Turut Terdampak!

Kondisi Ranjau di Wilayah Perbatasan

 Kondisi Ranjau di Wilayah Perbatasan

Perbatasan Kamboja penuh amunisi tak meledak dari perang masa lalu yang brutal. Ranjau darat anti-personel sulit dideteksi di medan berlumpur dan berawa, menjadi ancaman diam-diam yang menakutkan. Pembersihan memerlukan kerjasama intensif antarnegara, namun ketidakpercayaan masih membayangi setiap langkah.

Thailand tuduh Kamboja pasang ranjau baru di zona sengketa yang rawan. Kamboja bantah keras, klaim ranjau lama dari patroli Thailand masuk wilayahnya. Insiden serupa sering terjadi sejak 2025, menciptakan lingkaran ketakutan yang terus menguji kesabaran dan kewaspadaan kedua pihak.

Upaya demining terhambat gencatan rapuh yang goyah. Ribuan ranjau diperkirakan tersisa di bawah tanah. Petani dan warga lokal jadi korban sipil potensial, mengancam kehidupan sehari-hari dan menimbulkan rasa cemas yang hampir tak pernah hilang dari komunitas perbatasan.

Respons Dan Dampak Masa Depan

Militer Thailand melakukan investigasi menyeluruh atas ledakan misterius ini. Mereka tekankan ranjau bukan baru, untuk menghindari eskalasi yang bisa memicu perang. Diplomasi tingkat tinggi diaktifkan kembali dengan urgensi tinggi, sebagai upaya menenangkan ketegangan dan memberi sinyal kepada dunia bahwa perang terbuka masih bisa dicegah.

Kedua negara janji tingkatkan pembersihan ranjau bersama demi perdamaian. Gencatan senjata harus diperkuat untuk cegah korban baru yang tak bersalah. Komunitas internasional pantau ketat setiap perkembangan, menegaskan bahwa perhatian dunia tetap tertuju pada perbatasan yang rawan ini.

Insiden ini mengingatkan bahaya perang lama yang masih menghantui. Korban tentara jadi simbol penderitaan perbatasan yang tragis, dan sekaligus panggilan bagi semua pihak untuk menempatkan nyawa manusia di atas politik atau sengketa. Harapan perdamaian abadi tetap diperlukan, meski jalan menuju sana berliku dan penuh tantangan.​

Jangan lewatkan beserta informasi inspiratif lain untuk menambah wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari youtube.com
  • Gambar Kedua dari tempo.co