Kamboja Tuduh Thailand Duduki Wilayah, Gencatan Senjata Terancam

Silakan Share

Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menuduh Thailand menduduki wilayah perbatasan, menimbulkan kekhawatiran gencatan senjata runtuh.

Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menuduh Thailand menduduki wilayah perbatasan

Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menuduh pasukan Thailand menduduki wilayah Kamboja. Tuduhan ini muncul di tengah kekhawatiran konflik besar kembali pecah, meski gencatan senjata telah disepakati pada Oktober 2025 dengan mediasi Presiden AS Donald Trump. Stabilitas kawasan terancam oleh klaim dan sanggahan pelanggaran batas wilayah.

Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Situasi Terkini Kamboja–Thailand.

Pelanggaran Kedaulatan Dan Integritas Wilayah Kamboja

Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, mengungkapkan bahwa pasukan Thailand masih menduduki wilayah negaranya jauh di dalam batas seharusnya. Klaim ini disampaikan dalam wawancara dengan Reuters, menyoroti bahwa pendudukan melebihi klaim sepihak Thailand di perbatasan. Hal ini menunjukkan pelanggaran serius terhadap kedaulatan Kamboja.

Manet juga menjelaskan bahwa pasukan Thailand memasang kawat berduri di wilayah Kamboja, menghalangi warga kembali ke rumah. Ia menegaskan pernyataan ini bukan sekadar tuduhan, melainkan berdasarkan fakta di lapangan. Kondisi ini memperkeruh suasana pasca-kesepakatan damai.

Lebih lanjut, Manet menyatakan bahwa tindakan Thailand ini secara jelas melanggar kedaulatan dan integritas wilayah Kamboja. Situasi ini menunjukkan ketegangan yang semakin meningkat di perbatasan kedua negara, berpotensi memicu eskalasi konflik jika tidak segera ditangani dengan serius.

Ancaman Terhadap Gencatan Senjata

Pada Oktober 2025, Kamboja dan Thailand menandatangani perjanjian damai yang dimediasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Kuala Lumpur. Kesepakatan ini diharapkan mengakhiri pertempuran yang pecah tahun sebelumnya, namun perkembangan terbaru menunjukkan gencatan senjata tidak sepenuhnya efektif.

Sayangnya, gencatan senjata yang telah disepakati ternyata tidak mampu menghentikan pertempuran sepenuhnya. Kedua negara kini saling tuduh mengenai pihak yang pertama kali melanggar perjanjian tersebut. Tuduhan ini mengancam keberlanjutan perdamaian yang rapuh di perbatasan.

Hun Manet, dalam wawancaranya, memperingatkan adanya ancaman kembalinya konflik yang lebih besar antara Kamboja dan Thailand. Pernyataan ini menunjukkan kekhawatiran serius dari pihak Kamboja terhadap stabilitas regional dan dampak dari pelanggaran yang dituduhkan.

Baca Juga: Viral! Korban Perdagangan Orang Asal Palembang di Kamboja Memohon Pertolongan

Respons Thailand Terhadap Tuduhan

 Respons Thailand Terhadap Tuduhan

Tuduhan serius dari Kamboja ini segera direspons oleh pihak Thailand. Bangkok mengakui bahwa mereka masih menempatkan pasukan di wilayah perbatasan, namun dengan alasan untuk meredakan konflik yang ada. Penempatan pasukan ini diklaim sebagai langkah defensif, bukan ofensif.

Meskipun demikian, Thailand dengan tegas membantah tudingan bahwa mereka menduduki wilayah Kamboja. Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Laksamana Muda Surasant Kongsiri, menyatakan bahwa pihaknya mematuhi pernyataan bersama yang menyetujui untuk mempertahankan penempatan pasukan yang ada tanpa adanya bala bantuan.

Kongsiri menegaskan bahwa tidak ada pengerahan pasukan tambahan dari pihak Thailand, mengindikasikan komitmen mereka terhadap kesepakatan yang telah dibuat. Namun, perbedaan persepsi mengenai batas wilayah dan tindakan di lapangan tetap menjadi sumber ketegangan utama.

Implikasi Regional Dan Diplomasi

Ketegangan antara Kamboja dan Thailand ini memiliki implikasi serius bagi stabilitas regional Asia Tenggara. Sebagai dua anggota ASEAN, konflik berkelanjutan antara mereka dapat mengganggu upaya integrasi dan kerja sama di kawasan.

Peran mediasi internasional, seperti yang pernah dilakukan oleh Amerika Serikat, mungkin diperlukan kembali untuk meredakan situasi. Dialog dan negosiasi yang konstruktif sangat penting untuk mencari solusi damai dan mencegah eskalasi konflik.

Penting bagi kedua negara untuk menunjukkan itikad baik dan berkomitmen penuh terhadap penyelesaian sengketa melalui jalur diplomatik. Membangun kembali kepercayaan dan menghormati integritas wilayah satu sama lain adalah kunci untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan.

Jangan lewatkan berita terbaru Situasi Terkini Kamboja–Thailand beserta informasi inspiratif lain untuk menambah wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari regional.kompas.com
  • Gambar Kedua dari detik.com