Perang Perbatasan Thailand-Kamboja Mereda, Warga Tetap Mengungsi
Meskipun pertempuran di perbatasan Thailand-Kamboja mereda, ratusan ribu warga sipil tetap meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.
Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja, meskipun intensitasnya telah mereda, masih menyisakan duka mendalam bagi ribuan warga sipil. Laporan terbaru mengindikasikan bahwa bentrokan bersenjata telah berkurang, namun trauma dan ketidakpastian tetap menghantui masyarakat di wilayah perbatasan.
Berikut ini Situasi Terkini Kamboja–Thailand akan mengulas perkembangan terkini, dampak kemanusiaan, serta akar permasalahan yang membuat konflik ini sulit menemui titik terang.
Bentrokan Perbatasan Mereda, Namun Ancaman Tetap Ada
Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Laksamana Muda Surasant Kongsiri, menyatakan intensitas pertempuran di garis kontak perbatasan menurun dalam sehari terakhir. Meski demikian, bentrokan sporadis masih terjadi di beberapa area zona operasi Wilayah Militer Pertama dan Kedua. Hal ini menunjukkan situasi belum sepenuhnya stabil dan potensi eskalasi tetap ada.
Surasant menambahkan bahwa sebagian besar wilayah perbatasan yang sempat diduduki pasukan lawan berhasil direbut kembali oleh militer Thailand, kecuali satu lokasi. Kondisi ini menunjukkan upaya Thailand memulihkan kendali wilayah, sekaligus menyoroti kegigihan lawan mempertahankan posisi. Perang narasi dan klaim wilayah pun terus berlangsung.
Di sisi lain, tuduhan saling serang artileri terus mewarnai konflik ini. Militer Thailand menuduh Kamboja melancarkan serangan artileri ke sasaran sipil, sementara Kamboja membalas dengan tuduhan serupa terhadap pasukan bersenjata Thailand. Klaim-klaim ini memperkeruh suasana dan mempersulit upaya menemukan solusi damai yang berkelanjutan di kawasan perbatasan.
Dampak Mengerikan Serangan Roket Dan Artileri Pada Warga Sipil
Salah satu insiden paling menyorot adalah jatuhnya roket BM-21 di wilayah kedaulatan Thailand pada pukul 05.00 waktu setempat, yang merusak properti sipil di Distrik Ta Phraya, Provinsi Sa Kaeo. Serangan ini menjadi bukti nyata bahwa warga sipil menjadi korban langsung dari ketegangan militer. Kerusakan ini menambah daftar panjang penderitaan masyarakat di zona konflik.
Komando Angkatan Darat Thailand memperkirakan bahwa sistem roket peluncur ganda (MLRS) Kamboja telah menembaki 150 daerah di wilayah perbatasan Thailand sejak bentrokan kembali pecah pada 7 Desember. Angka ini menunjukkan skala serangan yang masif dan dampaknya yang luas terhadap infrastruktur dan kehidupan masyarakat di sepanjang perbatasan.
Sebagai akibatnya, dilaporkan 190 rumah, lima wihara Buddha, dua sekolah, dan satu rumah sakit hancur sebagian atau seluruhnya. Kerugian infrastruktur ini tidak hanya menimbulkan kerugian materiil besar, tetapi juga mengganggu akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan spiritualitas bagi komunitas yang terkena dampak.
Baca Juga: Heboh! Kamboja Imbau Turis Hindari Transit Thailand, Ini Penyebabnya
Krisis Kemanusiaan, Ratusan Ribu Warga Mengungsi
Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh pasukan bersenjata Thailand terus menembaki sasaran sipil di wilayah perbatasan Kamboja, yang menyebabkan sekitar 630.000 orang mengungsi. Angka fantastis ini menggambarkan skala krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung, dengan ratusan ribu jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.
Pengungsian massal ini menimbulkan tantangan besar dalam penyediaan bantuan kemanusiaan, termasuk tempat tinggal sementara, makanan, air bersih, dan layanan kesehatan. Komunitas internasional perlu memberikan perhatian serius terhadap situasi ini dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk meringankan penderitaan para pengungsi.
Korban sipil juga terus bertambah, dengan laporan mencapai 30 orang tewas di Kamboja akibat konflik. Angka ini adalah pengingat menyakitkan akan harga yang harus dibayar oleh masyarakat tak berdosa dalam setiap konflik bersenjata, menuntut tindakan segera untuk menghentikan kekerasan dan melindungi kehidupan manusia.
Upaya Diplomatik Dan Harapan Perdamaian Yang Rapuh
Meskipun situasi masih tegang, ada beberapa upaya diplomatik yang dilakukan untuk meredakan konflik. Laporan tentang rampungnya dialog awal antara Thailand dan Kamboja demi mengakhiri konflik perbatasan memberikan sedikit harapan. Dialog semacam ini sangat krusial untuk mencari solusi politik daripada militer.
Kamboja juga berupaya menjalin dialog militer dengan Thailand, bahkan di Malaysia, yang menunjukkan keinginan kuat untuk menyelesaikan masalah melalui jalur negosiasi. Dukungan dari negara-negara lain, seperti China yang mendukung pertemuan menlu ASEAN untuk mendamaikan Kamboja-Thailand, juga merupakan sinyal positif.
Namun, harapan untuk gencatan senjata yang langgeng masih rapuh, mengingat sejarah konflik yang panjang dan seringnya gagalnya perundingan. Menlu RI pun menyerukan Kamboja-Thailand untuk menahan diri dan menghentikan aksi militer. Jalan menuju perdamaian sejati masih panjang dan berliku, membutuhkan komitmen kuat dari kedua belah pihak.
Buat kalian yang ingin mendapatkan berita terbaru dan terupdate setiap hari, kalian bisa kunjungi Berita Indonesia Kamboja, yang dimana Akan selalu memberikan informasi menarik lainnya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari antaranews.com
- Gambar Kedua dari news.detik.com