Konflik Perbatasan Kembali Memanas, Ranjau Darat Lukai 4 Tentara Thailand

Silakan Share

Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja kembali memanas setelah insiden ranjau darat menewaskan stabilitas di wilayah rawan.

Konflik Perbatasan Kembali Memanas, Ranjau Darat Lukai 4 Tentara Thailand

Dalam sebuah patroli rutin di Provinsi Sisaket, empat tentara Thailand terluka akibat ledakan ranjau yang menurut militer Bangkok ditanam secara diam‑diam oleh pasukan Kamboja.

Satu prajurit bahkan kehilangan kakinya, sementara tiga lainnya mengalami luka-luka dari serpihan dan tekanan ledakan.

Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Berita Indonesia Kamboja.

Kronologi Insiden Ledakan Ranjau

Insiden terjadi ketika tim patroli militer Thailand melakukan pemeriksaan rutin di wilayah perbatasan Provinsi Sisaket, area yang berbatasan langsung dengan wilayah Preah Vihear milik Kamboja.

Patroli dilakukan untuk memastikan tidak ada aktivitas ilegal seperti penyelundupan kayu maupun pergerakan kelompok kriminal.

Saat tim bergerak di jalur berbatu yang tertutup semak, ranjau darat tiba-tiba meledak dan langsung menghantam empat tentara dalam formasi depan.

Ledakan tersebut menyebabkan dua tentara mengalami luka parah di bagian kaki, sementara dua lainnya mengalami luka serius akibat serpihan logam. Mereka segera dievakuasi menggunakan helikopter militer ke rumah sakit tentara terdekat.

Menurut laporan awal dari pihak Thailand, ranjau yang meledak diduga berasal dari masa konflik lama, namun ada pula spekulasi bahwa ranjau itu dipasang baru-baru ini.

Pemerintah Thailand meminta Kamboja memberikan penjelasan resmi karena lokasi ledakan berada sangat dekat dengan garis batas.

Kamboja, melalui juru bicara militernya, menolak tuduhan tersebut dan menyebut bahwa pihaknya tidak memasang ranjau baru.

Menurut mereka, ledakan itu kemungkinan besar berasal dari ranjau peninggalan perang sebelumnya.

Pernyataan ini tidak langsung menenangkan situasi karena Thailand menilai area itu telah dipastikan aman setelah pembersihan ranjau dilakukan beberapa tahun lalu.

Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata

Insiden ini muncul hanya beberapa waktu setelah kedua negara menandatangani kesepakatan gencatan senjata.

Thailand menilai bahwa penanaman ranjau baru oleh Kamboja merupakan pelanggaran serius atas deklarasi perdamaian tersebut.

Dalam tanggapannya, Kamboja justru menolak tuduhan itu, mengklaim ranjau-ranjau yang ada hanyalah sisa dari konflik masa lalu dan bukan ditanam baru-baru ini.

Pejabat Kamboja, seperti Menteri Senior Ly Thuch, menyebut bahwa klaim Thailand tidak berdasar. Mereka menegaskan bahwa Kamboja tetap menghormati keanggotaan pada Konvensi Ottawa yang melarang penggunaan ranjau anti-personel.

Baca Juga: Hubungan Thailand–Kamboja Memanas, Perjanjian Damai Ditangguhkan

Upaya Diplomatik Untuk Meredam Eskalasi

Upaya Diplomatik Untuk Meredam Eskalasi

Menyadari besarnya ancaman konflik baru, kedua pemerintah mulai mengupayakan langkah diplomatik untuk menurunkan tensi.

Thailand mengusulkan pembentukan tim investigasi bilateral yang melibatkan pakar ranjau internasional.

Tujuannya adalah memastikan investigasi dilakukan secara objektif dan transparan. Kamboja menyambut baik gagasan tersebut dan menekankan pentingnya kerja sama untuk menjaga perdamaian jangka panjang.

Selain itu, ASEAN juga turut memantau perkembangan situasi. Sebagai organisasi kawasan, ASEAN memiliki pengalaman menangani situasi serupa dan mendorong dialog damai.

Beberapa diplomat senior dari negara anggota disebut sedang berkomunikasi dengan Bangkok dan Phnom Penh untuk memastikan insiden ini tidak menimbulkan konflik terbuka.

Meski ada langkah diplomatik yang positif, ancaman bentrokan tetap ada jika provokasi kecil kembali terjadi.

Karena itu, kedua negara juga sepakat untuk menambah komunikasi langsung antara komandan militer di lapangan.

Komunikasi ini bertujuan mencegah kesalahpahaman, terutama di area yang belum sepenuhnya dipetakan.

Reaksi Politik Bangkok

Setelah insiden tersebut, pemerintah Thailand segera mengadakan rapat darurat untuk membahas situasi keamanan di perbatasan.

Kementerian Luar Negeri Thailand menyampaikan nota diplomatik kepada Phnom Penh yang menuntut penjelasan lebih mendetail.

Mereka menegaskan bahwa keselamatan prajurit dan stabilitas kawasan adalah prioritas utama. Pemerintah Thailand juga menyiagakan pasukan tambahan di beberapa pos perbatasan sebagai langkah antisipasi.

Di sisi lain, pemerintah Kamboja meminta kedua pihak tetap tenang dan menghindari tindakan yang dapat memperkeruh suasana.

Phnom Penh mengusulkan agar tim investigasi gabungan dibentuk untuk menentukan sumber ranjau dan memastikan kejadian serupa tidak terulang.

Pernyataan itu menjadi tanda bahwa Kamboja ingin meredam eskalasi, namun tidak ingin disalahkan sepihak.

Meskipun kedua pihak menyampaikan pesan diplomatis yang relatif tenang, masyarakat di wilayah perbatasan merasakan ketegangan meningkat.

Aktivitas perdagangan lintas batas menurun drastis, dan beberapa warga mengaku khawatir terjadinya bentrokan seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu ketika kedua negara terlibat baku tembak di area kuil kuno.

Buat kalian yang ingin mendapatkan berita terbaru dan terupdate setiap hari. Kalian bisa kunjungi Indonesia Kamboja, yang dimana Akan selalu memberikan informasi menarik lainnya.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Utama dari international.sindonews.com
  • Gambar Kedua dari www.melansir.com