Jenazah Pria Langkat yang Tewas di Kamboja Akhirnya Tiba di RI
Pemulangan jenazah AP, pria asal Langkat yang meninggal di Kamboja, adalah kisah tragis sekaligus pelajaran berharga.

Nama korban disingkat sebagai AP, warga Langkat, yang meninggal dunia pada 30 September 2025. Kematian AP menjadi sorotan publik dan memicu beragam reaksi, dari simpati hingga desakan agar kasusnya diusut tuntas.
Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Berita Indonesia Kamboja.
Awal Tragedi Kejadian
Cerita tragedi ini bermula saat AP ditemukan dalam kondisi sangat memprihatinkan di pinggir jalan di Provinsi Svay Rieng, Kamboja.
Letaknya sekitar 120 kilometer dari Phnom Penh, dekat perbatasan dengan Vietnam. Saat itu, luka di wajah dan tubuhnya membuatnya kesulitan berkomunikasi.
Karena tidak bisa menjelaskan jati dirinya, sempat ada anggapan dia bukan WNI, melainkan penduduk lokal atau bahkan orang asing lain.
Setelah heboh di media sosial, identitas AP akhirnya diketahui. KBRI Phnom Penh lantas berupaya keras menguak dan menindaklanjuti keberadaannya.
Upaya itu membuahkan hasil ketika diketahui bahwa AP sempat dirawat di RS Umum Svay Rieng pada hari kejadian. Namun, sore harinya, nyawanya tak tertolong karena cedera kepala yang berat.
Sikap KBRI sangat tegas dalam kasus ini. Mereka tidak hanya memfasilitasi pemulangan jenazah, tetapi juga menekankan pentingnya transparansi dari otoritas Kamboja.
Dugaan penganiayaan tidak bisa dikesampingkan laporan resmi kepolisian Kamboja menyebut cedera kepala sebagai penyebab kematian, dan KBRI menuntut agar kasus tersebut mendapat penanganan serius sekaligus penuh kejelasan.
Terkendala Biaya Pemulangan
Sebelum jenazah bisa terbang kembali ke tanah air, ada tantangan besar yang mesti dihadapi keluarga AP.
Biaya pemulangan disebut begitu tinggi, yaitu sebesar 8.500 dolar AS, yang jika dikonversi menjadi rupiah berkisar di angka Rp 130 juta.
Keluarga pun membuka donasi publik untuk mengumpulkan dana, karena sebagian besar tidak memiliki kemampuan finansial sendiri untuk menutup angka yang sangat besar tersebut.
KBRI Phnom Penh turut memberi dukungan penuh dalam proses ini. Mereka tidak hanya mengurus administrasi pemulangan jenazah.
Tetapi juga membantu merangkul donatur dan pihak lain yang bersedia membantu menanggung beban biaya. Dengan kerja sama semua pihak, keberangkatan jenazah AP akhirnya bisa terwujud.
Upaya repatriasi ini tidak hanya soal dana, tetapi juga proses diplomasi dan koordinasi antar pemerintah.
KBRI terus memantau penyelidikan kasus kematian AP, agar ada pertanggungjawaban hukum jika ternyata dugaan penganiayaan benar.
Baca Juga: Polda Sumut Didesak Selidiki Keterkaitan Imigrasi Dalam Kasus Kematian Najwa di Kamboja
Kedatangan Jenazah di Tanah Air

Jenazah Argo Prasetyo (25 tahun) tiba di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, pada Jumat (14/11). Kedatangan jenazah disambut dengan isak tangis keluarga yang telah lama menanti.
Adik kandung korban, Ega Prasetya, bersama dengan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Sumatera Utara dan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumut turut mendampingi dalam penyerahan jenazah dari Terminal Kargo Bandara Kualanamu.
Keluarga berencana untuk langsung memakamkan jenazah Argo setibanya di kediaman mereka, mengingat jenazah sudah terlalu lama berada di Kamboja dan keluarga tidak ingin melakukan autopsi lagi.
Perlindungan Pekerja Migran
Kasus ini lantas menjadi pengingat pahit tentang risiko yang dihadapi oleh Warga Negara Indonesia yang bekerja di luar negeri, terutama secara non-prosedural.
Pihak KBRI bahkan menyampaikan peringatan keras kepada masyarakat agar tidak tergoda janji pekerjaan dengan bayaran tinggi namun persyaratan yang sangat minim.
Statistik KBRI Phnom Penh menunjukkan bahwa masalah WNI di Kamboja terus meningkat. Hingga kuartal ketiga 2025, tercatat lebih dari 4.000 kasus WNI bermasalah di sana, naik lebih dari 50% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Data ini menggarisbawahi urgensi perlindungan pekerja migran melalui jalur yang benar dan legal.
Kematian AP pun memunculkan seruan dari masyarakat dan pejabat agar sistem imigrasi dan pengawasan terhadap WNI di luar negeri diperbaiki.
Salah satu kritik utama adalah minimnya pengawasan terhadap perusahaan atau agensi yang memberangkatkan pekerja.
Terutama mereka yang bekerja di sektor berisiko seperti perjudian online, penipuan daring, dan pekerjaan gelap lainnya di luar negeri.
Buat kalian yang ingin mendapatkan berita terbaru dan terupdate setiap hari. Kalian bisa kunjungi Indonesia Kamboja, yang dimana Akan selalu memberikan informasi menarik lainnya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari medan.tribunnews.com