Thailand dan Kamboja Batal Berdamai Setelah Ledakan Ranjau di Perbatasan
Thailand menangguhkan kesepakatan damai dengan Kamboja setelah dua tentaranya terluka akibat ledakan ranjau di perbatasan.

Kejadian ini menyoroti kembali ketegangan lama yang masih membayangi hubungan diplomatik antara kedua negara Asia Tenggara tersebut.
Berikut ini Berita Indonesia Kamboja akan memberikan informasi terbaru tentang penangguhan kesepakatan damai setelah insiden ranjau yang melukai tentara di perbatasan.
Insiden di Provinsi Sisaket
Ledakan terjadi di Provinsi Sisaket, wilayah yang berbatasan langsung dengan Kamboja. Menurut laporan Angkatan Darat Kerajaan Thailand (Royal Thai Army), satu prajurit mengalami cedera parah pada kaki, sementara seorang lainnya menderita nyeri dada akibat tekanan ledakan.
Insiden ini memaksa pihak militer Thailand untuk meninjau kembali langkah-langkah keamanan di sepanjang perbatasan.
Juru bicara Angkatan Darat Thailand, Siripong Angkasakulkiat, menyatakan bahwa insiden tersebut menjadi salah satu alasan utama penghentian sementara pelaksanaan kesepakatan damai yang sebelumnya telah disepakati.
“Bangkok akan menghentikan tindak lanjut atas deklarasi bersama dengan Kamboja,” ujar Siripong, menegaskan bahwa seluruh proses perdamaian kini tertunda.
Kesepakatan Damai yang Tertunda
Kesepakatan damai antara Thailand dan Kamboja sebelumnya ditandatangani pada 26 Oktober 2025 di Kuala Lumpur, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang disaksikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Tujuan utama perjanjian ini adalah mengakhiri konflik bersenjata yang memuncak pada Juli lalu. Saat itu, bentrokan di perbatasan menewaskan sedikitnya 43 orang dan memaksa lebih dari 300.000 warga mengungsi dari kedua sisi perbatasan.
Salah satu langkah penting dari kesepakatan damai adalah pembebasan 18 tentara Kamboja yang masih ditahan di Thailand.
Namun, rencana tersebut kini dipastikan tertunda akibat ketidakpastian keamanan yang kembali muncul. Analis menilai bahwa penangguhan ini bisa menjadi hambatan signifikan bagi upaya stabilisasi hubungan bilateral di kawasan perbatasan.
Baca Juga: Topan Kalmaegi Hantam Kamboja, 193 Tewas di Filipina dan Vietnam
Pernyataan Pemerintah Thailand

Dalam konferensi pers di Bangkok, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menegaskan bahwa insiden ledakan ranjau menunjukkan ancaman keamanan di perbatasan belum benar-benar mereda.
“Kami sempat mengira ancaman keamanan telah berkurang, tetapi ternyata situasi belum stabil sepenuhnya,” kata Anutin.
Thailand sendiri menuduh bahwa Kamboja telah memasang ranjau baru di wilayah perbatasan. Tuduhan ini menimbulkan ketegangan diplomatik yang signifikan, meski bukti-bukti yang dipublikasikan belum sepenuhnya diverifikasi secara independen.
Dalam konteks ini, penangguhan kesepakatan damai dianggap sebagai langkah kehati-hatian untuk melindungi keamanan tentara dan warga Thailand di daerah perbatasan.
Respons Kamboja dan Komitmen Perdamaian
Pihak berwenang Kamboja hingga kini belum memberikan tanggapan langsung terkait insiden ledakan ranjau. Namun, dalam pernyataan terpisah, Kementerian Pertahanan Kamboja menegaskan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap perdamaian.
Pemerintah Kamboja juga membantah tuduhan Thailand bahwa mereka menanam ranjau baru, menyatakan bahwa upaya diplomasi tetap menjadi jalan utama untuk menyelesaikan perselisihan.
Perselisihan mengenai wilayah perbatasan antara Thailand dan Kamboja sejatinya telah berlangsung lebih dari satu abad.
Meskipun terjadi beberapa kali gencatan senjata, ketegangan kembali memuncak pada Juli 2025 ketika Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau yang melukai tentara mereka.
Ketidakpastian ini membuat hubungan kedua negara tetap rapuh, meskipun sebelumnya terdapat tanda-tanda pemulihan diplomatik.
Dampak Terhadap Hubungan Bilateral
Penangguhan kesepakatan damai berpotensi memperburuk hubungan diplomatik Thailand-Kamboja. Para pengamat menilai, konflik perbatasan yang berulang ini tidak hanya menimbulkan risiko bagi tentara, tetapi juga bagi masyarakat sipil yang tinggal di kawasan perbatasan.
Selain itu, ketidakpastian dalam pelaksanaan kesepakatan bisa memperlambat proses rekonsiliasi dan pemulihan kepercayaan antara kedua negara.
Sementara itu, para diplomat ASEAN mendorong kedua pihak untuk melanjutkan dialog dan menjaga komunikasi terbuka. Agar insiden-insiden seperti ledakan ranjau tidak menjadi pemicu eskalasi lebih lanjut.
Dengan adanya tekanan internasional, diharapkan Thailand dan Kamboja dapat menemukan jalan tengah untuk memulihkan perdamaian yang sempat dicapai melalui KTT ASEAN.
Buat kalian yang ingin mendapatkan berita terbaru dan terupdate yang tentunya terpercaya hanya di Berita Indonesia Kamboja.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari kompas.com
- Gambar Kedua dari detik.com